Minggu, Desember 06, 2009

HIJRAH

Hijrah di Tengah Kedukaan

1 MUHARAM 1428 Hijriah yang jatuh pada tanggal 20 Januari 2007 mengingatkan kita pada sosok Umar bin Khattab, seorang sahabat Nabi yang dikenal cerdas dan berani. Umarlah, seorang khalifah sesudah Nabi wafat, yang pertama kali menetapkan tahun baru Islam ini. Disebut tahun hijriah karena Umar menggunakan peristiwa hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah sebagai titik awal penanggalan tahun tersebut.
Karena alasan hijrah inilah, Umar pun melakukan berbagai perubahan. Menata masyarakat menuju kehidupan yang semakin berperadaban. Umar pula saat itu yang berjasa membangun sistem administrasi pemerintahan sekaligus pengaturan sistem pembiayaan negara melalui konsep bait al-maal. Umar berhasil melakukan reformasi total untuk mewujudkan kemandirian umat di tengah-tengah badai ancaman peradaban dunia yang saat itu telah mendahului maju.
Dalam situasi Indonesia seperti yang kita rasakan saat ini, tulisan ini sengaja dibuat untuk berusaha "menghadirkan" Umar di tengah bangsa yang sedang duka. Kita membutuhkan Umar "baru" untuk menemukan jalan keluar dari berbagai impitan sosial, politik, ekonomi, bahkan agama dan kebudayaan. Tentu bukan Umar bin Khattab bangsa Arab yang pernah bertekuk lutut di bawah kaki Fatimah ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Tapi Umar dari bangsa kita sendiri yang sanggup memikul semangat hijrah itu untuk memimpin melakukan berbagai refleksi sosial, melalui ikhtiar merajut kembali simpul-simpul kemanusiaan yang tampak semakin lelah mengikuti hari-hari Indonesia yang terus-menerus diliputi duka.
Sejak periode Umar, Hijriah telah berputar selama 1428 kali. Ia terus berganti mengikuti perputaran waktu dari tahun ke tahun. Tapi substansi hijrahnya sendiri sering kali terabaikan. Tahun hanya berubah tanpa menghitung perubahan realitas kehidupan para penghuni bumi ini. Padahal, pergantian tahun sebaiknya lebih dimanfaatkan bukan hanya untuk menghitung hari, tapi juga untuk menghitung realitas kehidupan.
Realitas kehidupan sendiri berjalan mengikuti hukum dialektika sejarah yang hampir tidak bisa ditawar-tawar. Jika tahun-tahun terakhir ini dinamai era reformasi, misalnya, justru karena tahun-tahun sebelumnya lebih diwarnai oleh adanya kemapanan sosial yang menuntut perubahan. Ke depan, hukum dialektika sejarah itu pun akan menyediakan jalan bagi terbukanya era baru sebagai produk dari proses kontinum peristiwa-peristiwa yang pernah mendahuluinya.
Dari proses itulah kita dapat belajar untuk tidak mengulangi kesalahan. Sebab, jika seorang mukmin terperosok ke dalam satu lubang, cukup sekali kejadian ini terjadi. Alquran berkali-kali mengungkap peristiwa masa lalu. Kisah diturunkannya Adam ke dunia, ingkar janjinya Bani Israil, ketertindasan Muhammad saw ketika diangkat menjadi rasul, bahkan diabadikannya jasad Firaun. Semua diceritakan ulang dalam Alquran, dengan maksud untuk memberikan pelajaran bagi generasi berikutnya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Angka 100 yang sering menjadi ukuran untuk melihat proses waktu sukses tidaknya pemerintahan yang baru saja kita lalui, tentu masih menyisakan sejumlah agenda. Ibarat sebuah "pentas", ada yang berujung dengan baik, tapi ada pula yang mengakhiri ceritanya dengan penuh ketidakpastian. Ada proses hukum yang mungkin tidak jelas ujung pangkalnya, tapi ada pula satu-dua kisah yang berakhir dalam setting yang mudah diprediksi. Bahkan, jika kita sanggup keluar dari ruang kehidupan ini, dan kita mampu membuka mata untuk melihat realitas itu, maka kita akan menyaksikan permainan "sandiwara" dalam sebuah panggung raksasa yang disebut kehidupan.
Perumpamaan ini bukan saja mengingatkan sejumlah peristiwa yang biasa mewarnai setiap lembaran media massa, tapi lebih dari itu, dapat pula menjadi alat ukur untuk melihat kejujuran dari setiap peristiwa yang terjadi. Benarkah, misalnya, konflik itu timbul karena alasan agama seperti banyak dipahami masyarakat kita, atau malah sebetulnya karena alasan lain. Sebab meskipun Durkheim pernah menunjukkan adanya dua potensi yang saling berlawanan dalam agama, konflik dan integrasi, hal itu tidak terjadi dalam ruang sosial yang sangat sederhana.
Konflik dan integrasi merupakan peristiwa sosial yang terjadi karena proses panjang kehidupan umat beragama. Atau seperti tema kemiskinan yang sering kali muncul dalam berbagai even politik nasional. Apakah tema itu muncul sebagai implikasi dari rendahnya sumber daya alam atau justru karena rendahnya moralitas para pengelolanya.
Sering mata kita menjadi buta ketika melihat kenyataan sejarah yang dipandang memalukan. Lalu dirangkailah fakta-fakta sejarah buatan untuk menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya. Atau jika hal itu dilakukan dengan maksud untuk memperhalus komunikasi politik (eufemisme), sama saja ruginya karena dalam beberapa hal eufemisme dapat menghambat keterbukaan.
Ke depan, jalan keluarnya, kita harus lebih banyak belajar jujur. Hari-hari Indonesia berikutnya membutuhkan suasana kejujuran kolektif, keterbukaan yang sejati, dan ketulusan partisipasi. Sebab, Indonesia ini terlalu besar untuk diperebutkan tanpa kejujuran. Karena itu, agenda pemerintahan 100 hari yang telah mengundang berbagai kontroversi itu ada baiknya kita dijadikan sebagai momentum latihan kejujuran. Kita telah melewati pelajaran berharga selama 100 hari pemerintahan SBY-JK, dan saat ini kita membutuhkan kejujuran, sekurang-kurangnya untuk memasuki Indonesia yang lebih baik.
Dan demikian seterusnya, karena zaman dan peristiwa akan terus berjalan secara dialektis. Tidak ada peristiwa sejarah yang berdiri sendiri, kecuali ia memiliki rangkaian yang sulit dipisahkan dari peristiwa-peristiwa sejarah sebelum dan sesudahnya. Mungkin, hingga hari ini, kita belum tahu hikmah yang masih dirahasiakan Allah setelah musibah gema dan badai tsunami di Aceh dan Sumut beberapa waktu yang lalu. Kita baru bisa menangis karena kehilangan segalanya. Tapi kita terus berikhtiar sambil menunggu waktu ketika hikmah itu mulai menampakkan dirinya ke permukaan.
Keterkaitan antarwaktu ini dijelaskan Alquran dalam konteks perilaku yang saling menentukan. Surat al Hasyr ayat 18 mengingatkan. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)... ".
Melihat masa lalu dalam konteks ayat tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar mengaca diri untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Jadi, bukan untuk meluapkan emosi kebahagiaan karena perubahan angka yang menjadi simbol pergantian tahun. Bahkan dalam ayat yang lain, Alquran menegaskan bahwa perjalanan waktu itu merupakan ruang-ruang kehidupan yang tidak boleh kosong dari amal perbuatan. "Faidza faraghta fanshab". Jika telah menyelesaikan satu pekerjaan, mulailah dengan pekerjaan yang lainnya.
Bekerja sendiri adalah ciri manusia berbudaya. Oleh karena kebudayaan selalu terkait dengan dimensi waktu, kerja manusia pun akan selalu diwarnai oleh waktu. Wajar apabila nuansa peristiwa yang terjadi pada suatu zaman berbeda dari zaman yang lainnya. Sebab suatu peristiwa pada dasarnya merupakan ekspresi manusia yang dikendalikan oleh hasrat-hasrat personal dan lingkungan sosial yang mengitarinya. Hasrat-hasrat personal ini pula yang membedakan interpretasi atas gejala-gejala yang terjadi di seputar lingkungan sosialnya. Perbedaan kepentingan politik, misalnya, akan membedakan cara pandang seseorang ketika melihat ruang sosial yang disebut dengan Indonesia.***




الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ ﴿٢٠﴾


Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. ( At-Taubah: 20)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :