Sabtu, November 12, 2011

Membiasakan Perilaku Terpuji


MEMBIASAKAN PERILAKU TERPUJI
(TAUBAT dan RAJA’)

TAUBAT

A.   PENGERTIAN TAUBAT
Adalah proses menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak melakukannya kembali atau permohonan ampun kepada Allah SWT. Atas segala kesalahan (kekhilafan) dan dosa yang telah dilakukannya.

B.   KRITERIA ORANG YANG BERTAUBAT
1.    Orang yang bertaubat langsung sesudah melakukan dosa / kesalahan.
Orang ini diampuni dosanya oleh Allah SWT., sebagaimana firman Allah  dalam surat Ali Imron ayat 89 :
مفَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌإِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا
“Selain orang-orang yang bertaubat sesudah melakukan kesalahan dan mengadakan perbaikan, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi Maha penyayang “
2.    Taubat seseorang ketika hampir mati atau sekarat.
Taubat semacam ini sudah tidak dapat diterima. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 18 :

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الآنَ وَلا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ
“ Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”
      Dan berdasarkan Hadits ibnu umar  ra. dari Nabi SAW. Beliau bersabda :

إن الله يقبل توبة العبد مالم يغرغر
“ Sesungguhnya Allah akan menerima taubat hamba-Nya sebelum nyawanya sampai ditenggorokan “ (HR. Ahmad)

3.    Taubat Nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya.
Taubat seperti inilah yang nilainya paling tinggi dan akan diampuni oleh Allah SWT.
Sebagaimana Firman Allah dalam Surat At-tahrim ayat 8 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ ……….وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
“ Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,…….. “

C.   SYARAT-SYARAT TAUBAT
1.    Menyesal atas segala perbuatan dosa/kesalahan yang pernah dilakukan.
2.    Mensucikan diri dari perbuatan maksiat yang sudah dilakukan (Istighfar/mohon ampun pada Allah). Kerana tidak ada artinya bertaubat jika dosa masih terus dikerjakan.
3.    Bertekad dengan sungguh-sungguh  tidak akan mengulanginya lagi selama hidup.
4.    Mengganti perbuatan dosa dengan perbuatan yang mengarah ketaatan pada Allah

Syarat diterimanya taubat yaitu:
1.  Ikhlas. Artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.
2.  Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
3.  Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya.
4.  Tidak mengulangi. Artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
5.  Istighfar. Yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hakNya.
6.  Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut, jika kesalahan/dosa yang diperbuat terdapat hubungan antar sesama manusia.
7.  Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya.

D.   CONTOH PERILAKU TAUBAT
Diantara contoh dan tanda orang yang bertaubat adalah :
-       Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa.
-       lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt.

E.  MEMBIASAKAN TAUBAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
-       Taubat itu dilakukan setiap kita melakukan dosa, akan tetapi tentunya dosa yang berbeda.
-       Bahkan kita harus bertaubat kepada Allah setiap saat karena mungkin saja ada dosa yang tidak terasa kita lakukan sehingga memerlukan pembersihan atau taubat.

ROJA’

Roja'  berarti mengharapkan sesuatu dari Allah SWT.(Keridhoan-Nya), Ketika berdo’a maka kita harus penuh harap bahwa do’a kita akan dikabulkan oleh Allah SWT.

1.    Peranan roja'
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah 'azza wa jalla ada tiga:
Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa' (harap).
Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat. Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat (bagi orang yang masuk surga). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka." (QS. Yunus: 62) Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta.

2.    Roja' yang terpuji
Syaikh Al 'Utsaimin berkata: "Ketahuilah, roja' yang terpuji hanya ada pada diri orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya atau bertaubat dari kemaksiatannya dan berharap taubatnya diterima, adapun roja' tanpa disertai amalan adalah roja' yang palsu, angan-angan belaka dan tercela." (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)

3.    Roja'  adalah ibadah
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Orang-orang yang diseru oleh mereka itu justru mencari jalan perantara menuju Rabb mereka siapakah di antara mereka yang bisa menjadi orang paling dekat kepada-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya." (QS. al-Israa': 57) Allah menceritakan kepada kita melalui ayat yang mulia ini bahwa sesembahan yang dipuja selain Allah oleh kaum musyrikin yaitu para malaikat dan orang-orang shalih mereka sendiri mencari kedekatan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ibadah, mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan diiringi harapan terhadap rahmat-Nya dan mereka menjauhi larangan-larangan-Nya dengan diiringi rasa takut tertimpa azab-Nya karena setiap orang yang beriman tentu akan merasa khawatir dan takut tertimpa hukuman-Nya

4.    Roja' yang disertai dengan ketundukan dan perendahan diri
Syaikh Al 'Utsaimin rahimahullah berkata: "Roja' yang disertai dengan perendahan diri dan ketundukan tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah 'azza wa jalla. Memalingkan roja' semacam ini kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa jadi syirik ashghar (kecil) dan bisa jadi syirik akbar (Besar) tergantung pada isi hati orang yang berharap itu..." (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)

5.    Mengendalikan  roja'
Sebagian ulama berpendapat: "Seyogyanya harapan lebih didominasikan tatkala berbuat ketaatan dan didominasikan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat." Karena apabila dia berbuat taat maka itu berarti dia telah melakukan penyebab tumbuhnya prasangka baik (kepada Allah) maka hendaknya dia mendominasikan harap yaitu agar amalnya diterima. Dan apabila dia bertekad untuk bermaksiat maka hendaknya ia mendominasikan rasa takut agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :