Selasa, Januari 20, 2009

BUDAYA ARAB SEBELUM ISLAM ( Akhmad Fatoni)

A. Pendahuluan
Membicarakan budaya Arab tentu akan berhubungan dengan situasi dan kondisi Bangsa Arab padawaktu itu. Letak geografis, cuaca, jenis tanah padang pasir dan iklim sangat mempengaruhi prilaku dan kebiasaan kebiasaan mereka. Tidak banyak yang diketahui tentang dokumen ataupun peninggalan peninggalan yang dapat kita jumpai untuk dijadikan referensi tentang kehidupan mereka secara detail.
Bangsa Arab atau yang sering disebut juga dengan bangsa yang tingga di Jazirah Arab itu luasnya kurang lebih 1.100.000 mil persegi, atau 3.156.558 kilometer persegi . Tanah seluas itu hampir sepertiganya tertutup oleh lautan pasir, pegunungan dan bebatuan yang besar. Kekeringan dan pasir menjadi pemandangan sehari hari, karena lembah lembah yang ada airnya sebentar saja kemudian kering. Sungai juga tidak di temukan karena air yang ada meresap kedalam pasir atau sebagian masuk kedalam lautan. Budaya bangsa arab sangat beragam hanya saja ada satu hal yang selalu ada didalam kehidupan mereka adalah suka berperang untuk saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan agar dapat memperoleh penghasilan.
Sebelum kedatangan Islam Bangsa Arab merupakan bangsa yang memiliki budaya yang jauh dari nilai nilai positif dan manusiawi. Pedang dan senjata menjadi teman yang selalu disandang dan dibawa kemanapun pergi, apalagi melalui daerah padang pasir yang sangat luas dan jauh, sering terjadi perampokan dan pencurian bahkan sampai terjadi saling membunuh.
Sejarah bangsa Arab penduduk gurun pasir hampir tidak dikenal orang. Yang dapat kita ketahui dari sejarah mereka hanyalah yang dimulai dari kira-kira lima puluh tahun sebelum Islam. Adapun yang sebelum itu tidaklah dapat diketahui. Yang demikian disebabkan karena bangsa Arab penduduk padang pasir itu terdiri atas berbagai macam suku bangsa yang suka berperang. Peperangan-peperangan itu pada asal mulanya ditimbulkan oleh keinginan memelihara hidup, karena hanya siapa yang kuat sajalah yang berhak memiliki tempat-tempat yang berair dan padang-padang rumput tempat menggembalakan binatang ternak . Adapun si lemah, dia hanya berhak mati atau jadi budak.
Peperangan-peperangan itu menghabiskan waktu dan tenaga; karena itu mereka tidak mempunyai waktu dan kesempatan lagi untuk memikirkan kebudayaan. Dan bilamana di antara mereka dapat bekerja, mencipta dan menegakkan suatu kebudayaan, datanglah orang lain memerangi dan meruntuhkannya. Dan lagi, mereka buta huruf. Oleh karena itu sejarah dan kehidupan mereka tidak ada yang menuliskan.
Jadi, tidak ada bengunan-bangunan yang dapat melukiskan sejarah mereka; dan tidak ada pula tulisan-tulisan yang dapat menjelaskan sejarah itu. Adapun yang sampai kepada kita tentang orang-orang jaman dahulu itu, adalah yang diceritakan oleh kitab-kitab suci. Sejarah mereka, mulai dari masa seratus lima puluh tahun sebelum Islam, dapat kita ketahui dengan perantaraan syair-syair atau cerita-cerita yang diterima dari perawi-perawi.
Adapun sejarah bangsa Arab penduduk negeri, Adalah lebih jelas. Negeri-negeri mereka ialah: Jazirah Arab bahagian selatan, kerajaan Hirah dan Ghassan, dan beberapa kota ditanah Hejaz.
Masyarakat Arab, sebelum kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, dikenal dengan sebutan jahiliyah. Jika merujuk pada arti kata jahiliyah (yang berasal dari bahasa Arab dari kata jahala yang berarti bodoh), maka secara harfiyah bisa disimpulkan bahwa masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang bodoh.
Sebutan jahiliyah ini perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, sebab dari situlah akan terbangun pola kontruksi terhadap masyarakat Arab masa itu, yang di dalamnya adalah juga nenek moyang Nabi Muhammad SAW dan sekaligus cikal bakal masyarakat Islam. Jika masyarakat jahiliyah kita artikan sebagai masyarakat bodoh dalam pengertian primitif yang tak mengenal pengetahuan atau budaya; tentu sulit dipertanggungjawabkan, karena berdasarkan data sejarah, masyarakat Arab waktu itu juga telah memiliki nilai-nilai peradaban walaupun sederhana. Pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki masyarakat Arab, diantaranya dalam bidang
1. Astronomi, tetapi terbatas pada penggunaan bintang untuk petunjuk jalan, atau mengetahui jenis musim.
2. Meteorologi mereka gunakan untuk mengetahui cuaca dan turunnya hujan.
3. Sedikit tentang sejarah umat sekitarnya.
4. Pengobatan berdasarkan pengalaman.
5. Perdukunan dan semacamnya.
6. Bahasa dan Sastra (sering diadakan musabaqah ) dalam menyusun syair atau petuah dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di Ka’bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat atau membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya. Dengan syair mereka mengangkat reputasi satu kaum atau seseorang dan juga sebaliknya dapat menjatuhkannya).
B. Bagian bagian Jazirah Arab
Untuk menjelaskan Budaya Arab sebelum Islam haruslah kita kenali bagian bagian dari Bangsa Arab, karena mereka memiliki tabiat dan kebiasaan yang berbeda beda menurut kebiasaan mereka masing masing. Bagian bagian Bangsa Arab adalah meliputi :
1. Hijaz terletak disebelah tenggara dari Thursina di tepi laut Merah. Adapun sebab dinamai Hijaz karena dia menutup antara daerah Tihamah dan Najd. Dalam daerah Hijaz itulah letaknya kota yang terkenal dengan nama “ Mekkah “ atau “ Bakkah” tempat lahhir Nabi Muhammad SAW dan disanalah pada akhirnya di bangun masjidil haram yang ditengahnya terdapat Ka`bah.
2. Yaman letaknya di sebelah selatan Hijaz, sebab dinamai Yaman karena letaknya berada disebelah kanan Ka`bah yakni jika menghadap ketimur dan di sebelah kiri dinamai negeri Asier.
3. Hadramaut terletak di sebelah timur dari daerah Yaman dan di tepi Samudra Hindia
4. Muhrah terletak di sebelah timur daerah Hadramaut
5. Oman di sebelah utara bersambung dengan teluk persia dan disebelah tenggara dengan Samudra Hindia
6. Al-Hasa terletak di panatai Teluk Persia dan panjangnya sampai ke tepi sungai Euphraat
7. Najd terletak di tengah tengah antara Hijaz, Al-hasa, Sahara negeri Syam dan negeri Yamamah. Tanah Najd itulah dataran yang tinggi dan luas, dan bersambung di utara dengan negeri Syam, di timur dengan Iraq, di barat dengan Hijaz dan di selatan dengan Yamamah.
8. Ahqaf terletak di daerah Arab sebelah selatan dan disebelah barat daya dari Oman. Dan daerah Ahqaf itulah dataran yang rendah.
C. Syair Arab
Ada dua cara, dalam mempelajari syair Arab di masa Jahiliah sebelum kedatangan Islam, yaitu :
1. Mempelajari syair itu sebagai suatu kesenian, yang oleh bangsa Arab amat dihargai.
2. Mempelajari syair itu dengan maksud, supaya kita dapat mengetahui adat istiadat dan budi pekerti bangsa Arab.
Syair adalah salah satu seni yang sangat indah, dihargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Mereka amat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair, untuk mendengarkan syair-syair mereka.
Ada beberapa pasar tempat penyair berkumpul, yaitu:pasar ‘Ukas, Majinnah, Zul Majaz. Dipasar-pasar itu para penyair memperdengarkan syairnya yang sudah dipersiapkan untuk maksud itu, dengan dikelilingi oleh warga sukunya yang memuji dan merasa bangga dengan penyair-penyair mereka. Dipilihlah di antara syair-syair itu yang terbagus, lalu digantungkan di Ka’bah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujaan mereka. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Bila pada suatu kabilah muncul seorang penyair maka berdatanganlah utusan dari kabilah-kabilah lain, untuk mengucapkan selamat kepada kabilah itu. Untuk ini kabilah itu mengadakan perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran, dengan menyembelih binatang-binatang ternak. Wanita-wanita kabilah ke luar untuk menari, menyanyi dan bermain musik.
Semua ini diadakan untuk menghormati penyair. Karena penyair membela dan mempertahankan kabilah dengan syair-syairnya, ia melebihi seorang pahlawan yang membela kabilahnya dengan ujung tombaknya. Disamping itu penyair dapat juga mengabadikan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian dengan syairnya. Dan bilamana ada penyair-penyair kabilah lain mencela kabilahnya, maka dialah yang akan membalas dan menolak celaan-celaan itu dengan syair-syairnya pula. Salah satu dari pengaruh syair pada bangsa Arab ialah : Bahwa syair itu dapat meninggikan derajat yang tadinya hina,atau sebaliknya, dapat menghinakan seseorang yang tadinya mulia. Bilamana seorang penyair memuji seorang yang tadinya dipandang hina, maka dengan mendadak sontak orang itu menjadi mulia; dan bilamana seorang penyair mencela atau memaki seorang yang tadinya dimuliakan, maka dengan serta merta orang itu menjadi hina . Sebagai contoh dapat kita sebutkan di sini Abdul ‘Uzza ibnu ‘Amir. Dia adalah seorang yang mulanya hidup melarat. Puteri-puterinya banyak, akan tetapi tidak ada pemuda-pemuda yang mau memperistri mereka. Kemudian dia dipuji oleh Al A’sya seorang penyair ulung. Syair Al A’sya yang berisi pujian itu tersiar kemana-mana. Dengan demikian menjadi mashyurlah Abdul ‘Uzza itu; penghidupannya menjadi baik, maka berebutanlah pemuda-pemuda meminang puteri-puterinya. Ada sekumpulan manusia yang dicela oleh penyair Hassan ibnu Tsabit, maka menjadi hinalah mereka. Penyair Al Huthaiah memuji sekelompok manusia. Mereka merasa bangga dengan pujian Al Huthaiah itu, seakan-akan pujian Al Huthaiah itu suatu ijazah yang mereka dapat dari salah satu perguruan tinggi. Itulah syair dan demikianlah pengaruhnya! Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa syair itu sebagai suatu seni yang telah menggambarkan kehidupan, budi pekerti dan adat istiadat bangsa Arab. Menurut para ahli sejarah syair-syair dari penyair-penyair yang hidup dimasa Jahiliah tersebut menjadi sumber yang terpenting bagi sejarah bangsa Arab sebelum Islam. Syair-syair dapat menggambarkan kehidupan bangsa Arab dimasa Jahililiah sebelum kedatangan Nabi MuhammadSAW. Orang yang membaca syair Arab, akan melihat kehidupan bangsa Arab tergambar dengan jelas pada syair itu . Dia akan melihat padang pasir, kemah-kemah, tepat-tempat permainan, dan sumber-sumber air. Dia akan mendengar tutur kata pemimpin-pemimpin laki-laki dan wanita. Dia akan mendengar bunyi kuda dan gemerincing pedang. Syair akan mengisahkan kepadanya peperangan-peperangan, adat istiadat dan budi pekerti bagsa Arab.
Dari syair kita akan mengetahui bahwa di antara bangsa Arab ada orang-orang yang telah mengetahui "Allah", kendati pun kepercayaan watsani-lah yang berkembang di waktu itu. Ada orang mengharamkan atau mencela minum khamar (tuak). Dan salah satu adat kebiasan mereka ialah mengawini istri ayahnya sesudah ayahnya itu meninggal. Mereka telah mengenal thalaq, dan banyak lagi hal hal lain yang bersumber dari syair Arab Jahiliah itu.
D. Kehidupan dan Budaya Bangsa Arab
Bangsa Arab pada masa itu terdapat dua golongan yaitu yang tinggal di perkotaan dan tinggal di pedesaan . Dari dua golongan itu yang paling banyak adalah penduduk yang tinggal di pedesaan atau di gunung- gunung atau yang tinggal di daerah Padang pasir. Golongan yang besar itulah yang dinamakan golongan Badwi yang suka memelihara binatang-binatang ternak seperti unta. Mereka memelihara dengan sangat baik karena unta dapat digunakan sebagai alat transportasi yang tepat di daerah padang pasir. Penduduk perkotaan dalam kehidupan mencukupi kebutuhan mengandalkan jalan perniagaan dengan bergang di luar negeri. Perdagangan yang dilakukan bertahun tahun juga tidak dapat berkembang maju karena mereka harus melakukan perjalanan yang sangat jauh dan melalui padang pasir luas. Diperjalanan juga sering tidak aman karena sering terjadinya perampokan, pembajakan, penyamunan dan kejahatan yang dilakukan oleh penduduk yang tinggal di bukit bukit atau daerah pegunungan dan padang pasir. Kejadian ini menjadi salah satu penyebab tidak berkembannya dunia perdagangan bangsa arab pada waktu itu. Dari kondisi yang demikian itu menyebabkan budaya dan peradaban Bangsa arab baik masyarakat kota maupun di pedesaan tidak banyak memiliki peninggalan peninggalan sejarah sebagai bukti kemajuan mereka.
E. Agama Bangsa Arab
Agama yang berkembang di Jazirah Arab sebelum kedatangan nabi Muhammad SAW dan Islam sebenarnya sudah ada agama yang di bawa oleh para nabi dan rasul pendahulu yang mengajarkan tentang adanya Tuhan yang harus disembah. Bahkan sejak zaman nabi Ibrahim,as dan nabi Ismail,as telah mengajarkan adanya konsep tentang keesaan Allah. Hanya saja mereka setelah sekian lama belum ada nabi lagi banyak melakukan penyimpangan penyimpangan ajaran agama. Dalam perkembangan berikutnya mereka suka memutar balikkan ajaran agama, diubah, direkayasa, ditambah dan dikurangi hingga akhirnya agama nabi Ibrahim,as tinggal nama saja. Keagamaan bangsa arab pada awal menjelang kedatangan Islam secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Menyembah Malaikat, mereka menyembah dan menganggapbahwa malaikat merupakan wakil tuhan di dunia, untukmemberikansegala sesuatu yang diminta atau dihajatkan oleh manusia.
2. Menyembah Jin, Ruh dan Hantu, hal ini dikerjakan karena mereka beranggapan bahwa Jin, Ruh dan hantu adalah saling mempunyai hubungan dengan leluhur mereka, sehingga ada yang menghormat kepada mereka.
3. Menyembah Bintang bintang , yang dimaksud dengan menyembah bintang-bintang adalah matahari, bulan, dan bintang bintang yang gemerlapan di malam hari. Mereka beranggapan bahwa bintang bintang itu diberi kekuasaan penuh oleh Tuhan yang megarur alam yang luas ini.
4. Menyembah Berhala, mereka biasanya menyembah berhala dalam bentuk patung yang mereka buat sendiri yang dibuat dari kayu, logam ataupun batu batuan. Berhala tersebut diletakkan disamping ka`bah ataupun di dalam ka`bah yang kemudian disembah dandipuja puja sendiri. Adapun berhala yang paling besar ialah; Hubal, Manat, Latta, Uzza inilah berhala yang terkenal dan banyak dipuja. Penyembah berhala ini juga terbagi menjadi tiga, yaitu :
a. Yang mengakui adanya Tuhan Yang Mahas Esa, tetapi dalam penyembahan mereka menggunakan berhala sebagai perantara.
b. Menyembah berhala karena punya pendirian bahwa berhala itu tidak berubah dengan ka’bah, sama-sama dijadikan sebagai kiblat di dalam menyembah Allah Ta’ala.
c. Mereka yang berkata bahwa dalam tiap-tiap berhala itu ada syaitan, yang mengatur baik buruk nasib manusia. Jadi yang disembah itu syaitan, bukan berhalanya.
5. Agama Yahudi, pemeluk yahudi berkembang di Hejaz, terutama di Khaibar dan di antara bani Quraizah, bani Nadhir, dan bani Qainuqa’ di Medinah.
6. Agama Nasrani , pada masa itu agama Nasrani banyak mendapat bantuan yang besar dari kerajaan Romawi dan kerajaan Habsyi sehingga dapat berkembang sesuai perkembangan zaman . Pemeluk Nasrani. Masuk dari negeri Rumawi dibawa oleh anggota pemerintahan kerajaan Ghassaan yang melawat ke sana karena berniaga. Agama ini berkembang lewat dua firkah, yaitu Nasturiah di Hirah dan Ya’qubiyah di Syam.
7. Ada yang berpegang pada agama Nabi Ibrahim. Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua, yang tetap memegang apa yang diterimanya dari Nabi Ibrahim itu dan tidak diubah-ubahnya dan yang memberi beberapa tambahan.
8. Dahriyin. Mereka yang tidak mengakui ada yang menjadikan alam dan tidak mengakui akan datangnya hari kiamat.
9. Sabiah. Mereka yang menggantungkan kepercayaannya kepada perjalanan bintang dan falak, berkeyakinan bahwasanya segala sesuatu itu, geraknya dan diamnya, berjalan dan berhentinya, semua itu bertali dan berkait dengan bintang-bintang.
10. Zindiq.
11. Penyembah api.


F. Perilaku Bangsa Arab sebelum Islam
Kehidupan Bangsa Arab sangat jauh berbeda antara sebelum dan sesudah kedatangan Islam . Secara singkat dapat kita ungkap tentang kebiasaan mereka yang sangat buruk misalnya :
1. Pemabuk karena suka minum Tuak
2. Perjudian
3. Pelacuran
4. Pencurian dan Perampokkan
5. Kekejaman
6. Kurang Bersih dalam Pola Makan dan Minum
7. Tidak memiliki budaya Sopan Santun
8. Suka bertengkar dan Berkelahi
G. Perlakuan Terhadap Perempuan
Kondisi sosial masyarakat Arab yang disebut dengan jahiliyyah, diantaranya yang bisa dilihat dari hubungan antara laki-laki dengan wanita di kalangan masyarakat biasa. Dalam hal perkawinan, misalnya, dikenal 4 macam yaitu :
1. Seorang lelaki meminang (calon istri) kepada walinya, kemudian memberinya mahar dan menikahinya (pernikahan lazimnya sekarang).
2. Perkawinan istibdha’ (mencari bibit unggul), yaitu apabila seorang istri sudah bersih dari haidnya, sang suami berkata kepadanya, “Pergilah kepada fulan dan mintalah bersetubuh dengannya.” Maka, sang suami menjauhinya dan tidak menyetubuhinya selama belum nyata kehamilannya dari hasil persetubuhan dengan orang tersebut. Setelah nyata kehamilannya, sang suami baru menggaulinya bila menginginkannya. Hal tersebut dilakukan karena keinginannya memiliki keturunan anak yang pandai dan berani.
3. Sekelompok orang berjumlah kurang dari sepuluh mendatangi seorang wanita, semuanya menyetubuhinya. Apabila sudah hamil dan melahirkan anaknya, wanita tersebut mendatangi mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menolak sehingga mereka berkumpul di tempat wanita tersebut. Kemudian wanita tersebut berkata kepada mereka, “Kalian sudah mengetahui perbuatan yang telah kalian lakukan. Saya telah melahirkan seorang anak. Anak ini adalah anakmu wahai fulan (sambil menyebutkan nama salah seorang dari mereka yang dicintai).” Kemudian anak tersebut dinisbatkan kepadanya.
4. Orang banyak berkumpul lalu mendatangi seorang wanita pelacur yang tidak pernah menolak orang yang datang kepadanya. Para pelacur itu meletakkan bendera di depan pintunya sebagai tanda bahwa siapapun yang menginginkannya boleh memasukinya. Setelah pelacur tersebut hamil dan melahirkan, mereka berkumpul di tempatnya dan mereka mengundang Qafah (orang yang bisa nengetahui persamaan anatara anak dan bapak lewat tanda-tanda yang tersembunyi). Kemudia sang Qafah tersebut menisbatkan anak pelacur tersebut kepada orang yang dia lihat (memiliki tanda persamaan dengan anak tersebut), dan orang tersebut menganggapnya sebagai anaknya, tidak boleh menolak.
Selain empat macam perkawinan di atas, ada bentuk-bentuk lain hubungan laki-laki dengan wanita yang termasuk jahiliyah misalnya dalam peperangan antarkabilah, yang menang menawan para istri dari kabilah yang kalah, dan menghalalkan kehormatannya. Sedangkan anak-anak para wanita tersebut akan menanggung aib selama hidupnya.
Dalam hal poligami, mereka melakukan tanpa batas; misalnya menawini dua wanita yang bersaudara; mengawini istri bapak mereka setelah ditalak atau ditinggal mati. Ada di antara suku Arab yang suka membunuh anak perempuannya sendiri karena malu, atau karena anak itu tidak menarik hatinya. Ada pula yang membunuh karena takut miskin.
Namun begitu, di kalangan bangsawan Arab, hubungan laki-laki dengan wanita (istri) sudah berada pada tingkat kemajuan. Seorang istri memiliki kebebasan berpikir dan berbicara dalam porsi yang cukup besar. Seorang istri dihormati dan dilindungi, dan apabila kehormatan diganggu, pedanglah yang berbicara dan darah pun tumpah.

H. Penutup
Keadaan suatu bangsa dimanapun berada dalam perkembangan antar generasi pasti akan mengalami berbagai perubahan. Dalam banyak hal Bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arab dalam kurun waktu yang lama telah mengalami suka dan duka , kesesngsaraan, keprihatinan, bahkan disebut sebut sebagai Zaman jahiliyah atau zaman kebodohan. Dibalik kebodohan dan ketidak tahuan itu ternyata dapat dijumpai pula suatu kemajuan di kalangan Bangsa Arab dan khususnya yang tinggal di Yaman. Pertukangan dan Perniagaan telah lebih maju dibandingkan dengan Bangsa Arab diluar Yaman. Bangsa Arab sebelum Islam terbagi bagi dalam beberapa kerajaan besar dan kecil. Diantara kerajaan yang besar ialah Yaman, kerajaan Munazirah, dan kerajaan Ghassaniyah. Dari berbagai macam suku bangsa Arab terdapat suku Bangsa Quraisy yang pada akhirnya menurunkan keturunan yang melahirkan Nabi MuhammadSAW. Nama bangsa Quraisy juga disebut dalam Al Quran dan menjadi salah satu nama surat dalam Al-Quran.
Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana bahwa sesungguhnya Bangsa Arab memiliki budaya dan pengetahuan walaupun tingkat peradabanya masih sangat rendah. Karena dari merekalah datang seorang nabi dan Rasul Terakhir, tentunya pemaknaan jahiliyah perlu mendapkan pemahaman yang seimbang dan tepat. Karena tidak mungkin seorang nabi atau Rasul itu datang dari orang yang Bodoh ( Jahiliyah )

DAFTAR PUSTAKA

Al Mubarakfuruy, Shafiyyur Rahman, 1998, Muhammad Sirah Nabawiyah, Jakarta, Robbani Pres
Chalil, Moenawar,K.H , 1993 Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, Jakarta, Bulan Bintang
Hamka, Prof.Dr, 2002, Sejarah Umat Islam, Jakarta, Pustaka Nasional
Husain, Haikal Muhammad, 2004, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta, Lentera Antar Nusa
Karen, Amstrong, 2004, Muhammad Sang nabi , Risalah Gusti
Shihab, M Quraish, 1999, Mukjizat Al Quran ditinjau dari Aspek Kebahasaan isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib, Jakarta, Mizan
Nata, Abuddin,Prof.Dr.H,MA, 2005,Kapita Selekta Pendidikan Islam, Angkasa, Bandung
Putra dauly,Haidar,Prof.Dr.H,MA, Pendidikan Islam cetakanke3,2007, Jakarta, Kencana MediaGroup
Yatim, badri,Dr,MA, Sejarah Peradaban Islam, 1999,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :