Rabu, Juni 02, 2010

Menyantuni Dhuafa

Menyantuni Dhuafa


Bahan Ajar
PERINTAH
MENYANTUNI KAUM DUAFA

Standar Kompetensi :
14. Memahami ayat-ayat Al-Quran tentang perintah menyantuni kaum duafa

Kompetensi dasar :
14.1 Membaca Quran surat Al-Isra ayat 26-27 dan Al-Baqarah ayat 177
14.2 Menjelaskan arti quran surat Al-Isra 26-27 dan Al-Baqarah ayat 177
14.3 menampilkan perilaku menyantuni kaum duafa seperti terkandung dalam surat Al-Isra ayat 26-27 dan Al-Baqarah ayat 177









Keterangan Gambar : Siswa SMAN 6 Yogyakarta praktik langsung menyantuni kaum duafa baik disekitar tempat tinggal siswa, maupun di lingkungan sekolah dengan memberikan bingkisan sembako atau uang sebagai bentuk penanaman perilaku dan pembiasaan.

KAJIAN FAKTA
Gelandangan dan Pengemis:
Jakarta Tetap Jadi Tumpuan

Sebuah tradisi yang sudah menjadi ritual wajib setiap tahun menjelang hari Raya Idul Fitri atau populer dengan istilah lebaran. Pemerintah Provinsi DKI jakarta tiba-tiba galak terhadap gelandangan dan pengemis yang dianggap sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial. Namun, setiap menjelang Ramadhan, gelandangan dan pengemis tetap saja berdatangan ke Jakarta, yang masih mereka anggap sebagai tumpuan harapan.
Contohnya, Parti dan anaknya Martin yang masih berusia 4 tahun, yang merupakan satu dari ribuan orang yang setiap hari mencari nafkah di jalanan Jakarta dengan jalan meminta-minta. Selain di Grogol, orang-orang seperti Parti dapat ditemui dipersimpangan lain seperti Senen, Cempaka Putih, Tomang, hingga Blok M.
Sulitnya mencari nafkah di kampung menjadi alasan banyak orang untuk merantau ke Jakarta meski mereka harus hidup dan bekerja apa saja seperti yang dialami Amin. Untuk mengejar uang Rp50.000,00 perhari sebagai buruh galian, pria berumur 60 tahun ini meninggalkan rumahnya di Jepara, Jawa Tengah, dan tidur di kolong jembatan layang Grogol. Padahal, besranya biaya hidup di Jakarta membuatnya hanya bisa membawa puang sekitar Rp500.000,00, bahkan Rp200.000,00 meski sudah bekerja dua minggu di Jakarta. Dalam satu bulan,Amin juga hampir tidak pernah bekerja penuh di Jakarta sebab cukup sulit mendapat proyek di Jakarta. Selain karena Proyek yang terbatas, buruh galian juga banyak.
Namun, kondisi itu tetap tidak menghalanginya datang ke Jakarta. Sebab, sepahit apapun bekerja di Jakarta, tetap lebih baik dibandingkan dengan mengolah sawah seluas 750 meter persegi miliknya di Jepara. Sebab, setiap kali panen dan kondisi baik, pendapatan bersih yang didapatnya hanya Rp400.000,00 untuk 4 bulan. Jika tiba-tiba harga gabah anjlok atau harga pupuk melambung tinggi, serta tanaman terserang hama atau kurang air, pendapatan Amin bisa kurang dari itu atau bahkan nol.
Sebenarnya pemerintah DKI sudah bekerjasama dengan panti sosial untuk mendidik penyandang masalah kesejahteraan sosial. Setelah ditangkap dan diberi pendidikan ketrampilan di panti, diharapkan mereka tidak kembali lagi ke Jakarta. Semua biaya pendidikan ditanggung pemerintah DKI, meski demikian, ada juga penyandang masalah sosial yang sudah dididik, tetapi kemudian tertangkap lagi oleh tramtib DKI Jakarta.
Selama masalah kemiskinan tidak terpecahkan, Parti dan teman-temanya tetap akan datang ke Jakarta meski dengan resiko harus hidup di sembarang tempat. Dan, resiko itu bagi mereka tidak seberapa dibandingkan dengan kegelisahan perut yang menunggu diisi.
( Disarikan dari artikel kolom Metropolitan, Kompas, Rabu 4 Oktober 20008

TELAAH
A. Surah Al Isra Ayat 26-27
1. Asbabun Nuzul
Surah Al Isra dikenal juga dengan nama Surah Bani Israil yang termasuk golongan surat Makiyah. Pada ayat 26-27 ini mempunyai asbanun nuzul yang diriwayatkan oleh At Thabrani yang bersumber dari Abu Sa`id Al Khudri dan dalam riwayat lain oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah saw, memberikan tanah di Fadak ( tanah yang diperoleh Rasulullah dari pembagian ganimah atau rampasan perang ) kepada Fatimah.

2. Bacaan Surah Al Isra Ayat 26-7
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيراً ﴿٢٦﴾ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً ﴿٢٧﴾
Artinya :
(26)Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.(27)Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.(QS Al-Isra:26-27)

KATA MUTIARA
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah


3. Kandungan Ayat
a. Secara umum ayat tersebut berhubungan dengan hubungan antara manusia dalam hal memanfaatkan dan menggunakan harta yang dimiliki
b. Orang yang diberi nafkah atau harta hendaklah memperhatikan dari oarng yang paling dekat seperti; keluarga atau kaum kerabat, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan.
c. Larangan untuk tidak berlaku boros dalam membelanjakan hartanya atau menghambur-hamburkan harta
d. Perbuatan boros adalah sifat syaitaniyah yang harus ditinggalkan, dan syaitan itu adalah makhluk yang selalu ingkar kepada Allah.


















4. Penjelasan
Pada ayat 26 menjelaskan kepada manusia bahwa orang yang mempunyai kelebihan harta punya kewajiban untu menyantuni atau menolong. Ditegaskan dalam ayat tersebut bahwa orang yang paling berhak untuk segera mendapat santunan adalah dari oang yang paling dekat dalam sebuah keluarga, yaitu;
a. Keluarga dekat atau kaum kerabatnya
b. Orang-orang miskin
c. Orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan

Dalam ayat 26 tersebut dengan tegas melarang manusia untuk bersifat boros dan menghambur hamburkan harta untuk keperluan yang kurang bermanfaat. Sedangkan dalam ayat 27 Allah mengingatkan kepada manusia dengan memberikan tekanan bahwa perilaku boros adalah termasuk saudara syaitan. Dan syaitan itu selalu ingkar kepada Allah swt. Daripada untuk menghaburkan harta masih banyak saudara kita yang memerlukan bantuan kita semua yang memiliki harta lebih.

Pemberian infak dari harta yang diperoleh haruslah dengan cara yang baik dan sesuai dengan kadar ketentuan yang layak. Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 267 sebagai berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴿٢٦٧﴾
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.( QS.2:267)

Allah SWT memerintahkan umat Islam yang beriman agar memberikan infak atay nafkah sebagai hak bagi keluarga-keluarga yang dekat. Kemudian diberikan kepada orang-orang yang kekurangan atau orang-orang miskin, perlu juga diberikan kepada orang-orang yang dalam perjalanan atau ibnu sabil,
Harta yang diberikan kepada orang-orang yang berhak menerima hendaklah harta yang baik-baik dan masih disukai, dan jangan memberikan harta atau sesuatu yang kita sendiri sudah tidak menyukainya. Dalam memberikan bantuan kepada fakir mikin sesungguhnya yang dibutuhkan tidak sekedar materi saja, tetapi juga perhatian dan hubungan persaudaraan sesama muslim.
Dalam membelanjakan harta seorang muslim harus sesuai dengan kemampuan dan tidak boleh bersifat boros. Boros dalam pandangan islam sangat dilarang yang dianjurkan adalah pada posisi yang pas yaitu ditengah-tengah antara tidak boros juga tidak bakhil. Allah berfirman dalam surat Al Furqan ayat 67 :
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً ﴿٦٧﴾
Artinya:
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.( Q.S Al Furqan :67)

Ayat di atas memberikan suatu pemahaman bahwa Allah menyukai orang-orang yang tepat dalam mengelola harta kekayaan dan sesuai dengan peruntukannya. Allah SWT memberikan penghargaan dan balasan pahala yang jauh lebih banyak dengan apa yang kita berikan untuk menyantuni kaum duafa. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 261 :
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦١﴾

Artinya :
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al Baqarah:261)

Dalam surat Al Baqarah ayat 261 dengan jelas Allah akan membalas kepada siapapun yang menafkahkan hartanya di jalan Allah termasuk menyantuni kaum duafa, dengan balasan yang berlipat ganda.


B. Surah Al Baqarah Ayat 177

1. Asbabun Nuzul
Dalam sebuah riwayat oleh Abdurrazaq dari Ma`mar dan dari Qatadah serta riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul Aliyah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu salat menghada ke barat, sedangkan kaum Nasrani mengarah ke timur sehingga turunlah Al Baqarah ayat 177.

Dalam sebuah riwayat lain Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir yang bersumber dari Qatadah bahwa turunya ayat tersebut sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW, tentang al birr atau kebajikan. Setelah ayat tersebut, Rasulullah memanggil kembali orang tersebut dan dibacakanya ayat itu kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan salat fardhu. Pada waktu itu, apabila seseorang telah mengucapkan syahadat, kemudian meninggal di saat beriman, maka harapan besar ia mendapatkan kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu apabila salat menghadap ke barat, sedangkan kaum Nasrani mengarah ke timur.





























2. Bacaan Surah Al Baqarah Ayat 177

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿١٧٧﴾
Artinya :
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.( Q.S Al Baqarah; 177

3. Kandungan Ayat

Kebaikan yang dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 177 adalah beriman kepada Allah SWT, hari akhir, beriman kepada malaikat-malaikta, kitab-kitab, para nabi dan selalu melaksanakan keimananya itu dalam hidupnya. Diantara kebaikan yang perlu dilakukan dalam keseharian misalnya :
 Memberikan harta yang kita sukai atau yang masih bagus kepada kerabat atau saudara kita, dan hendaknya kerabat itu yang paling dekat hubungan keluarganya.
 Menyantuni kepada orang yang tidak mampu atau orang miskin, anak yatim piatu, karena mereka masih sangat membutuhkan pertolongan dan bantua.
 Menolong kepada musafir yang berniat baik dalam perjalanan dan pengembaraanya.
 Membantu kepada orang yang terpaksa harus meminta-minta, seperti gelandangan dan pengemis.
 Memberikan sebagian harta kepada orang yang lemah, sakit, kekurangan
 Melaksanakan ibadah yang menjadi kewajiban manusia kepada Allah SWT
 Melaksanakan kewajiban untuk membayar zakat
 Menepati janji bagi orang yang mengadakan perjanjian.
 Sabar dalam penderitaan

4. Penjelasan
Pada waktu kiblat umat Islam berpindah ke arah Ka`bah atau baitullah di Masjidil Haram Makah, terjadilah perselisihan antara orang Islam dengan orang-orang ahli kitab. Para ahli Kitab berpendapat orang yang melakukan ibadah ( salat ) tidak menghadap kearah baitul maqdis atau Masjidil Aqsha, tidak sah. Mereka dianggap bukan pengikut nabi-nabi. Umat islam sebaliknya berpendapat bahwa ibadah yang di terima itu kalau menghadap ke arah Ka`bah yang ada di Masjidil Haram Makah.

Sebenarnya ayat ini diperuntukkan kepada seluruh umat manusia yang menganut agama yang berasal dari langit atau dikenal dengan istilah agama samawi, bahwa yang namanya ibadah itu bukan hanya persoalan menghadap kearah barat, atau kearah timur, tetapi ibadah dan kebajikan itu ialah beriman kepada Allah SWT, beriman kepada malaikat, dan beriman kepada nabi, kitab-kitab, hari akhir dan beramal saleh.

Nilai amal saleh sangat erat kaitanya dengan iman. Sebaliknya, amal saleh bila tidak didasari oleh iman, maka dosa itu tidak dapat ditebus dengan amal saleh sebesar apapun sehingga perbuatan-perbutan baik yang dilakukan itu didasari dengan iman. Dalam Al Quran didapati hubungan iman dan amal sebagaimana berikut ini;
1. Orang yang mati dalam keadaan kafir dan belum bertobat tidak akan diterima amalanya.
2. Orang-orang yang musyrik akan dihapus amalanya
3. Amal pebuatan orang-orang kafir sia-sia
4. Orang kafir akan ditimpakan siksa di dunia dan di akhirat
5. Orang yang tidak beriman kepada akhirat hanya mendapatkan kehidupan dunia saja.

C. Penerapan Sikap dan Perilaku
Sebagai bentuk perwujudan dan pengamalan surat Al-Baqarah ayat 177 diantaranya dapat dilakukan dengan cara :
1. Beriman kepada Allah SWT
2. Beriman kepada malaikat, kitab-kitab,dan para nabi
3. Mendirikan salat
4. Menirikan Zakat
5. Berakhlak mulia
6. Menepati Janji
7. Menyantuni anak yatim , ibnu sabil
8. Sabar dalam penderitaan.
9. Bekerja dengan tekun untuk menafkahi keluarga
10. Suka menabung dan tidak berlaku boros
11. Menjauhi segala hal yang sia-sia
12. Mempelajari ilmu agama dan mengamalkanya
13. Bersedekah dengan harta yang paling baik
14. Bersikap amanah
15. Berpikir kritis
16. Selalu melatih untuk beribadah kepada Allah SWT,
17. Dll.

TUGAS
Buatlah kelompak terdiri lima siswa setiap kelompok, dengan tugas mencari orang-orang yang dianggap duafa dan perlu mendapat bantuan santunan. Setiap kelompok wajib menyantuni minimal 3 orang dengan latar belakang pekerjaan yang berbedabeda. Kemudian buatlah laporan kegiatan tersebut dengan lengkap dan akurat.
LATIHAN
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas dan benar !
1. Jelaskan pengertian duafa?
2. Sebutkan orang-orang yang berhak mendapatkan santuna !
3. Apa yang dimaksud boros ?
4. Sebutkan tanda-tanda pemboros
5. Jelaskan isi kandungan surat Al Isra 26-27
6. Sebutkan kebajikan yang dimaksud surat Al baqarah 177
7. Balasan apa yang diterima orang yang kafir kepada Allah SWT ?
8. Jelaskan yang dimaksud mendirikan salat?
9. Apa ujuan menyantuni fakir miskin !
10. Bagaimana balasan Allah terhadap orang yang mau berinfak ?

GLOSARIUM
Duafa : orang yang lemah ekonomi
Samawi : berhubungan dengan langit
Syaitaniyah : bersifat seperti setan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :