Rabu, Juni 23, 2010

Terabaikannya Ukhuwwah (Parodi Menjelang Pilkada)

PENDIDIKAN UKHUWWAH YANG TERABAIKAN
(Parodi Menjelang Pilkada)
Oleh: Masngud*

Disetiap kali ada peluang untuk dapat menduduki bahkan menguasai sesuatu tidak ketinggalan ‘perebutan’ acap menjadi polemic yang berakibat buruk dibelakang kemudian. Baik di bidang social, ekonomi, maupun politik selalu diiringi dengan perebutan untuk mencapai kedudukan bahkan menjadikan perpecahan. Kedudukan adalah diimpikan sebagai jalan yang terbaik bagi kehidupannya, diimpikan menjadi suatu keindahan untuk meraih derajat yang membawa kesejahteraan bagi kehidupannya. Sementara melalaikan tujuan hakiki dalam hidup di dunia ini, yang bukan hanya untuk tujuan yang sesaat.
Di dalam tubuh terdapat akal, jasad dan qolbu. Akal membuat orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang diinginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal. Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi, maka tubuh akan berlatih agar menjadi kuat. Sayangnya, tidak sedikit orang yang cerdas, orang yang begitu gagah perkasa, orang yang begitu tinggi kedudukan jabatannya, orang yang begitu melimpah harta bendanya, tetapi tidak menjadi mulya, bahkan sebagian diantaranya membuat kehinaan karena menyalah gunakan kenikmatan yang dimilikinya atau berbuat kejahatan karenanya.
Demikian juga dalam hal ukhuwwah, hampir setiap mubaligh dalam khutbah dan ceramahnya sering menyampaikan kepada jemaahnya agar memperkokoh serta menjaga persatuan dan kesatuan itu merupakan jalan yang tepat untuk membentuk kekuatan ummat atau masyarakat, menegakan amar ma'ruf dan nahi munkar serta untuk membangun kemajuan dan kemakmuran ummat. Memang benar pesan para mubaligh dan ustadz itu, sebab tanpa persatuan dan kesatuan yang kokoh, mustahil kekuatan ummat dapat dibangun, serta mustahil amar ma'ruf dan nahi munkar, keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan dapat terwujud. Begitu pula persatuan dan kesatuan bagi bangsa Indonesia. Merupakan aset nasional yang teramat penting. Sebab dengan persatuan dan kesatuan itu, keutuhan negara Indonesia dapat dipertahankan, serta kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia dapat dibangun.
Dalam kacamata Islam, persatuan dan kesatuan merupakan bagian penting dalam sejarah Islam, bahkan wajib hukumnya dan haram meninggalkannya atau berpecah belah sebab dengan persatuan dan kesatuan itulah daulah Islam di jazirah Arab pada masa pemerintahan Nabi Muhamad SAW dapat dibangun.
Demikian pula imperium Bani Ummayah dan Bani Abasyiah yang wilayah kekuasaanya terbentang luas dari India hingga Spanyol, dan Afrika Tengah sampai Danau Arab di sebelah utara dapat dibangun, dan syariat Islam dapat diterapkan. Tanpa persatuan dan kesatuan ummat Islam yang kokoh pada masa itu, mustahil daulah Islamiyah di jazirah Arab dan imperium Islam yang berpusat di Damsyik dan Bagdad dapat berdiri dengan kokoh. Berkaitan dengan persatuan dan kesatuan itu Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan berpegang kamu semuanya kepada tali(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara".
Kokohnya persatuan dan kesatuan ummat, yang dapat melahirkan kekuatan yang besar dan dahsyat hingga kemudian melahirkan daulah Islam yang tiada tandingannya telah digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut: "Orang-orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan (kokoh) yang menguatkan sebagian akan sebagian yang lain".
Namun begitu dalam kenyataan hidup sehari-hari tampaknya anjuran dan penegasan mengenai persatuan dan kestuan baru terwujud di mimbar-mimbar jum'at dan podium-podium, baru sebatas anjuran dan himbauan semata, dan baru terbentuk pada uraian dan pernyataan yang indah dan tegas. Pada kenyataannya persatuan dan kesatuan ummat tampak masih lemah dan rapuh, tidak seperti bangunan yang kokoh, melainkan seperti buih di permukaaan air yang mudah hancur dihantam gelombang.
Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat kita, antar organisasi politik maupun organisasi kemasyarakatan belum menunjukan kesatuan dan kebersamaan yang kokoh, bahkan interen organisasi Islam itu sendiri. Demikian juga antar sesama muslim belum tumbuh rasa saling percaya yang kuat, sebaliknya sering timbul rasa curiga dan buruk sangka, sehingga umat masih terkotak-kotak. Dalam menghadapi suatu masalah umat Islam sering bersilang pendapat, sehingga pada akhirnya dapat membingungkan umat dan menghilangkan simpati masyarakat. Umat Islam nampaknya juga masih terkungkung oleh sebagian kepentingan duniawi sehingga ukhuwah yang berakar aqidah tauhid dilalaikan. Hal seperti itu terjadi karena: Pertama, umat Islam masih terbelenggu oleh persolan-persoalan kecil daripada persoalan yang besar. Masih suka mempersoalkan hal-hal yang tidak prinsipil daripada yang prinsip. Persoalan-persoalan yang tidak prinsipil diantaranya ialah masalah khilafiyah. Sedangkan persoalan besar dan prinsipil diantaranya seperti masalah aqidah (tauhid), keadilan, persatuan dan kesatuan dan lain-lain dilalaikan.
Dalam suatu kasus, Ummat Islam kadang memilih lebih baik pecah daripada harus menerima faham lain, atau harus kompromi dengan faham Umat lain. Hal-hal seperti itu sering memperlemah ukhuwah. Bahkan perdebatan masalah khilafiyah sering berlarut-larut. Sementara pihak lain sudah berfikir tentang ilmu pengetahuan dan teknologi yang teramat tinggi (canggih), penguasaan kewilayahan yang dianggapnya menyimpan kandungan materi untuk cadangan kehidupan di masa yang akan dating, begitu seterusnya.
Oleh karena itu, salah jalan umat ini dalam rangka untuk membangun dan menjaga perstuan dan kesatuan adalah harus rela meninggalakan persoalan-persoalan yang tidak prinsipil, dan kembali memikirkan dan mengutamakan persoalan yang lebih besar bagi kesejahteraan dan kemakmuran ummat, yakni persoalan aqidah dan ibadah, keadilan, persatuan, kesatuan serta kebesaran pada masa yang akan datang dan lain-lain. Setiap berhadapan dengan persoalan besar hendaknya di hadapi bersama, dan setiap berhadapan dengan persoalan yang tidak prinsipil, maka segera dikembalikan kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul-Nya (hadits). Dalam hal mengembalikan persoalan kepada Allah. Allah SWT berfirman: ....Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (hadits) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Sebab kedua: yang menyebabkan perstuan dan kesatuan ummat Islam lemah dan rapuh ialah karena ummat terlalu mementingkan urusan duniawi, sehingga urusan ukhrawi atau urusan Islam dinomor duakan. Hal ini karena lemah aqidah dan ibadahnya sehingga mudah tergoda dan tergiur dengan kenikmatan duniawi. Urusan duniawi diantaranya ialah wanita, anak-nak, harta benda, kendaraan, pangkat dan kedudukan/jabatan. Ternyata demi kesenangan duniawi itu seorang muslim rela meninggalkan aqidah dan urusan Islam, rela bermusuhan atau berseteru dengan saudara sesama muslim yang lain, rela bersahabat dengan musuh Islam, bahkan rela bersekongkol dalam kebathilan dan penyelewengan.
Masalah keduniaan itu bila tidak dikendalikan oleh aqidah yang kokoh akan memperlemah ukhuwah dan menurunkan wibawa Islam secara umum. Maka jalan untuk memperkokoh persatuan ummat adalah dengan memperkokoh aqidah dan ibadah, mengutamakan urusan ukhrowi disamping juga urusan duniawi.
Berkaitan dengan wibawa ummat Islam, dikisahkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Akan datang suatu ummat yang keadannya bagaikan orang lapar mengerubuti hidangan. Para sahabat bertanya: Apakah karena jumlahnya banyak, tapi tak ubahnya seperti buih di permukaan air. Dicabut rasa takut dari para musuhnya, dan dijadikan pada hatimu Al-Wahnu itu? Tanya sahabat, Rasulullah menjawab: Cinta dunia dan taku mati.
Sebab ketiga: yang menyebabkan persatuan ummat lemah dan rapuh, karena ummat Islam mudah diadu domba. Seseorang mudah diadu domba karena ia lebih mengedepankan buruk sangka, kurang teliti terhadap hasutan dan tidak sadar bahwa ada pihak luar yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan Ummat Islam. Akibatnya Ummat Islam sering terlibat percekcokan dengan saudaranya sesama muslim yang sebenarnya hal itu dapat memperlemah persatuan ummat. Mengenai anjuran kewaspadaan, lihat surat Al-Hujurat (49) ayat 6.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan pertama, persatuan dan kesatuan merupakan aset yang amat penting untuk membangun kemajuan bangsa. kedua, kemajuan itu dapat diwujudkan bila persatuan dan kesatuan itu dijaga dan diperkokoh.
Sebagai penutup, persatuan dan kesatuan ummat dan juga persatuan dan kesatuan nasional adalah dengan jalan memperkuat aqidah, ibadah, menghindari persoalan yang tidak prinsipil dan meningkatkan kewaspadaan. Kemenangan dan kebesaran suatu bangsa tidaklah dapat terwujud dengan tidak mengabaikan ukhuwwah. Akhirnya, Akal membuat orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang diinginkan adalah tugasnya. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal, namun itu semua harus diefektifkan dengan bimbingan oleh hati (qolbu). Semoga Allah memberkati kita selalu. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :