Kamis, April 23, 2009

TEKNOLOGI TEKNOLOGI

I. PENDAHULUAN

Peradaban Islam tumbuh bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Pada masa daulah Bani Umayah ulama sebagai pelopor sekaligus cendekiawan berdiri di barisan paling depan sebagai upaya pengembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Hingga puncaknya pada masa dinasti Bani Abbasiyah iptek mencapai masa kejayaan, ini sebagai bukti bahwa Islam telah memberi warisan berharga terhadap peradaban dunia yang hingga kini telah mengalami kemajuan luar biasa.
Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan yang gemilang di bidang sains, teknologi, dan filsafat. Pada masa itu tradisi intelektual dan spirit pencarian serta pengembangan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan translasi (penerjemahan) atas karya-karya ilmiah para filsuf Yunani kuno tertancap kuat, tumbuh dan berkembang pesat.
Sumbangan dunia Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantah. Bermula dari dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi (perpindahan), diseminasi (perkembangan), dan proliferasi (pelimpahan) ke dunia Barat, yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yg mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi.
Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dalam Al Quran, sebab banyak dijumpai teks-teks yang mengupas mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Perhatikan Firman Allah berikut ini:
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوْسٍ لَّكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُوْنَ
Artinya “Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi utk kamu guna memelihara diri dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”. (QS. Al-Anbiya’: 80)
Dari keterangan itu jelas sekali bahwa manusia dituntut untuk berbuat sesuatu dengan sarana teknologi. Sehingga tidak mengherankan jika abad ke-7 M telah banyak lahir pemikir Islam yang tangguh produktif dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dunia Islam telah berhasil melahirkan sederet nama ilmuwan masyhur. Mereka itu seperti Al Kindi (filsafat), Al Farabi (fisika, logika), Jabir Haiyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), Al Razi (kimia, kedokteran), Al Biruni (astronomi), ibnu Haitsam (teknik, optik), Ibnu Sina (kedokteran), Ibnu Rusyd (filsafat), Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi) dan banyak lagi yang lain.
Ilmu-ilmu itu sekarang telah berkembang pesat, temuan-temuan baru terkait bidang matematika, fisika, biologi dan kedokteran memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan kehidupan manusia. Matematika dan fisika mengantarkan manusia menjelajah sampai ke ruang angkasa dan penguasaan teknologi informatika. Biologi dan kedokteran memberikan temuan-temuan baru yang menakjubkan pada bidang bioteknologi dan rekayasa kedokteran. Hal ini merubah kehidupan manusia menuju peradaban dunia yang semakin mencengangkan.
Menjadi pertanyaan besar adalah mengapa umat Islam sekarang menjadi umat yang paling tertinggal dalam sains dan teknologi? Menurut pandangan Prof. Khalijah, antara lain disebabkan umat Islam meninggalkan tradisi yang pernah dipraktekkan para ilmuwan dan ulama di masa lalu. “Tradisi pembaruan dan pemikiran hilang dari umat Islam. Ini tugas kita bersama. Kalau kita tak melakukan tajdid (pembaruan), umat ini akan semakin terpinggirkan,” katanya pada Konferensi Internasional Tajdid Islam Kedua bertema, “Ke Arah Kemantapan Sistem Pendidikan Islam dan Kemajuan Sains dan Teknologi” di Sepang, Malaysia (13-15 April 2006).
Dari paparan di atas, menjadi tugas bersama umat Islam untuk meraih kembali kejayaan Islam dalam bidang sains dan teknologi. Kehidupan globalisasi yang melanda dunia merupakan keniscayaan yang harus dihadapi umat Islam. Ketertinggalan dalam penguasaan sains dan teknologi berakibat pada ketertindasan umat Islam diseluruh bidang kehidupan, yaitu ketertindasan politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan dan keamanan.














II. PEMBAHASAN

A. Pengertian
Meraih kembali kejayaan Islam dalam bidang sains dan teknologi memiliki tiga pengertian, yaitu terdiri dari: meraih kembali; kejayaan Islam; dan sains dan teknologi. Meraih kembali berarti menginginkan sesuatu yang pernah dimiliki. Kejayaan Islam memiliki makna masa keagungan, masa gemilang, masa keemasan kekuasaan Islam. Sains berasal dari bahasa inggris science artinya ilmu dan teknologi asal kata dari technology.
Ilmu dan pengetahuan dibedakan, ilmu atau sains memiliki arti lebih spesifik yaitu usaha mencari pendekatan rasional dan pengumpulan fakta-fakta empiris, dengan melalui pendekatan keilmuan akan didapatkan sejumlah pengetahuan atau juga dapat dikatakan ilmu adalah sebagai pengetahuan yang ilmiah. Kemudian teknologi adalah penerapan ilmu-ilmu dasar untuk memecahkan masalah guna mencapai suatu tujuan tertentu, atau dapat dikatakan juga teknologi adalah ilmu tentang penerapan ilmu pengetahuan untuk memenuhi suatu tujuan. Dalam Kamus besar bahasa Indonesia teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis. Ada yang menyebut teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Pendapat lainnya mengatakan teknologi adalah wujud dari upaya manusia yang sistematis dalam menerapkan atau memanfaatkan ilmu pengetahuan/sains sehingga dapat memberikan kemudahan dan kesejahteraan bagi umat manusia (Zalbawi Soejoeti: 1994). Dari beberapa pengerian di atas dapat diambil pengertian bahwa umat Islam memiliki kewajiban meraih kembali kegemilangan sainstek dalam kehidupan modern ini dengan cara belajar tekun dan kerja keras.
Kemajuan Barat di bidang sainstek dewasa ini harus dapat memberi lecutan keras bagi umat Islam agar termotivasi untuk bekerja keras menggali ilmu, melakukan penelitian-penelitian, mengadakan eksperimen-eksperimen agar memperoleh temuan-temuan baru di bidang sainstek untuk mengejar ketertinggalan dari mereka.
B. Al-Quran dan Iptek
Bagi ilmuwan Al-Quran adalah inspirator, maknanya bahwa dalam Qur’an banyak terkandung teks-teks (ayat-ayat) yang mendorong manusia untuk melihat, memandang, berfikir, serta mencermati fenomena-fenomena alam semesta ciptaan Tuhan yang menarik untuk diselidiki, diteliti untuk dikembangkan. Al-Qur’an menantang manusia untuk menggunakan akal fikirannya seoptimal mungkin.
Al-Quran memuat segala informasi yang dibutuhkan manusia, baik yang sudah diketahui maupun belum diketahui. Informasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi pun disebutkan berulang-ulang dengan tujuan agar manusia bertindak untuk melakukan nazhar. Nazhar adalah mempraktekkan metode, mengadakan observasi dan penelitian ilmiah terhadap segala macam peristiwa alam di seluruh jagad ini, juga terhadap lingkungan keadaan masyarakat dan historisitas bangsa-bangsa zaman dahulu. Perhatikan firman Allah berikut ini:
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad): lakukanlah nadzar (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah) mengenai apa yang ada di langit dan di bumi ...”( QS. Yunus ayat 101)
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّّبِيْنَ
Artinya: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran: 137)
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya: Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Az-Zariyat: 21)
Beberapa hal ayat-ayat Al Quran memberikan motivasi agar manusia menggunakan akal fikiran untuk membaca dan mengamati fenomena-fenomena alam semesta. Berikut teks-teks Qur’an yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi:
1. Al-Quran Sebagai Produk Wujud Iptek Allah
Sebagai produk wujud iptek Allah, Al Quran menuntun manusia pada jalur-jalur riset yang akan ditempuh sehingga manusia memperoleh hasil yang benar. Al Quran juga sebagai hudan memberi kecerahan pada akal manusia, kebenaran hasil riset dapat diukur dari kesesuaian antara akal dengan naql.
Al-Quran merupakan rumus baku, dan alam semesta dengan segala perubahannya merupakan persoalan yang layak dan perlu dijawab. Maka Al-Quran merupakan kamus alam semesta. Solusi tentang teka-teki alam semesta akan terselesaikan dengan benar jika digunakan formula yang tepat yaitu al-Quran. Dengan demikian ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat Qur’aniyah akan berjalan secara pararel dan seimbang. Ilmu pengetahuan seperti ini jika menjelma menjadi teknologi maka akan menjadikan teknologi berbasiskan Qur’an atau teknologi yang Qur’anik.
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang pengembangan iptek, seperti wahyu pertama QS. Al-Alaq 1-5 menyuruh manusia untuk membaca, menulis, melakukan penelitian dengan dilandasi iman dan akhlak yang mulia. Sedangkan perintah untuk melakukan penelitian secara jelas terdapat dalam QS. Al-Ghasiyah, ayat 17-20:
أَفَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al-Ghasiyah: 17-20)
Dari ayat-ayat tersebut, maka munculah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran, sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif seperti yang berkembang di Yunani, melainkan memiliki ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. Penerapan metode ilmiah ini, yang terdiri atas pengukuran yang teliti pada observasi dengan pertimbangan rasional telah mengubah astrologi menjadi astronomi (A. Baiquni: 1997)
وَمِنْ كُلِّّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (QS. Az Zariyat: 49)
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لاَ يَعْلَمُوْنَ
Artinya: Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin: 36)
Dari ayat di atas dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk secara berpasang-pasangan, seperti ada siang dan malam, positif dan negatif, wanita dan pria, elektron dan positron. Terjadinya pasangan elektron dan positron di dalam fisika inti dikenal pembentukan ion (ion air production) di mana radiasi gelombang elektron magnetik memiliki tenaga di atas 1.02 Mev. Ayat ini dapat diartikan sebagai perintah untuk melakukan penelitian. Karena dengan melakukan penelitian hal-hal yang tadinya belum terungkap menjadi terungkap.
2. Al-Quran Sebagai Prediktor
Beberapa ayat Al Quran menyatakan ramalannya kejadian pada masa yang akan datang baik masa yang jauh maupun masa yang dekat, yang sebagian merupakan mata rantai sebab akibat (kausalitas). Oleh sebab itu jika sebab ini merupakan data-data yang dapat dirunut oleh manusia secara komprehensip, maka akibat yang ditimbulkan kelak akan dapat diketahui sebelum terjadi dengan intensitas keyakinan yang cukup tinggi. Berikut ini contoh ayat-ayat tersebut:
ظَهَرَ الْفَسَادَ فِي اْلبَرِّّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia... (QS. Ar Rum: 41)
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَأَبَا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوْهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلاَّ قَلِيْلاً مِمَّا تَأْكُلُوْنَ (47) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلاَّ قَلِيْلاً مِمَّا تُحْصِنُوْنَ (48)
Artinya: Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (QS. Yusuf: 47-48)
إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6) إِنَّ الَّذِيْنَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا ْالأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Qs. Bayinah: 6-8)
3. Al-Quran Sebagai Sumber Motivasi
Al Quran mendorong atau memberi motivasi kepada manusia untuk melakukan penjelajahan angkasa luar dan di bumi, perhatikan firman Allah berikut ini:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَانْفُذُوا لاَ تَنْفُذُون إِلاَّ بِسُلْطَانٍ (33)
Artinya: Hai sekumpulan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulthon). (QS. Ar Rahman: 33)
Kemudian tentang penjelajahan di bumi, perhatikan firman berikut ini:
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى اْلأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ (7)
Artinya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (QS. As Syu’ara: 7)
Islam tidak melarang untuk memikirkan masalah teknologi modern atau ilmu pengetahuan yang sifatnya menuju modernisasi pemikiran manusia genius, profesional, dan konstruktif serta aspiratif terhadap permaslahan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
4. Al-Quran dan Simplikasi (Penyederhanaan)
Alam semesta ini membentuk struktur yang sangat teratur, dan bergerak dengan teratur. Keteraturan gerak alam semesta ini lebih memudahkan manusia untuk menyederhanakan fenomena-fenomena yang terkait ke dalam bahasa ilmu pengetahuan (matematika, fisika, kimia biologi dan lain-lain). Sehingga manusia dapat menjadi operator yang mampu mewakili peristiwa yang terjadi di alam semesta. Untuk meraih teknologi tinggi tidak perlu merasa tidak mampu, dengan semangat tinggi dan tidak menganggap bahwa high tech merupakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai, maka high tech akan dapat diraih. Perhatikan firman Allah berikut ini:
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ اْلأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَاْلأَنْعَامُ حَتىَّ إِذَا أَخَذَتِ اْلأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنْهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيْدًا كَأَنْ لَّمْ تَغْنَ بِاْلأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ (24)
Artinya: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya. karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah Sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang berfikir. (QS. Yunus: 24)
5. Al-Quran Sumber Etika Pengembangan Iptek
Pada teknologi harus terkandung muatan etika yang selalu menyertai hasil teknologi pada saat akan diterapkan. Sungguh pun hebat hasil teknologi namun jika diniatkan untuk membuat kerusakan sesama manusia, menghancurkan lingkungan sangat dilarang di dalam Islam. Jadi teknologi bukan sesuatu yang bebas nilai, demikian pula penyalahgunaan teknologi merupakan perbuatan zalim yang tidak disukai Allah SWT. Perhatikan FirmanNya:
وَابْتَغِ فِيْمَا آَتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلآَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ اْلفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash: 77)
Demikian pula sains dan teknologi modern (Barat) tidak ada yang netral atau bebas nilai. Tetapi prioritas, penekanan, metode dan prosesnya, serta pandangan terhadap dunia merefleksikan kepentingan masyarakat dan kebudayaan Barat. Dalam kerangka ini sains Barat semata-mata digunakan untuk mengejar keuntungan dan sejumlah produksi, untuk pengembangan militer dan perlengkapan-perlengkapan perang, serta untuk mendominasi ras manusia terhadap ras manusia lainnya, sebagaimana untuk mendominasi alam. Dalam sistem Barat sains itu sendiri merupakan nilai tertinggi, sehingga segala-galanya harus dikorbankan demi sains dan teknologi.
Dalam kaitan ini munculnya disiplin baru seperti sosiobiologi, eugenics (ilmu untuk meningkatkan kualitas-kualitas spesies manusia) dan rekayasa genetika, tidak mendorong timbulnya persaudaraan dan tanggungjawab tapi memberi kesan bagi kaum ilmuwan bahwa merekalah penguasa jagad raya ini.
Kemudian dalam bidang biologi, perkembangan teknologi yang pesat diawali dengan penemuan DNA oleh Watson dan Crick pada Tahun 1953. Sejak saat itu berbagai macam teknologi yang melibatkan perekayasaan sifat genetic makhluk hidup mulai bermunculan. Beberapa diantaranya sangat menakjubkan dan memungkinkan manusia berperan sebagai tuhan. Sementara sanat Islam berbeda, ilmu yang dicari semata-mata hanya untuk mencari karunia Allah, bukan untuk merusak sehingga menimbulkan bencana.
C. Konsepsi Ilmu Terpadu
Untuk meraih kembali kejayaan sains dan teknologi, harus merubah paradigma lama untuk tidak mendikotomikan ilmu. Pada awal mula di turunkan, Al-Qur’an secara eksplisit sangat mendorong manusia untuk berpikir secara terpadu dengan zikir kepada Allah SWT,
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. (QS. Al Alaq: 1)
Menurut Sahirul Alim, perintah Allah bacalah berarti berpikir secara teratur, sistematis, terarah dalam mempelajari firman dan ciptaanNya. Dalam proses membaca disertai dengan menyebut nama Tuhanmu, berarti harus terpadu dengan zikir, sehingga manusia diharapkan mampu membaca Al-Quran, As Sunah, dan Al-Kaun.
Digambarkan dalam Bagan sebagai berikut:









Ilmu atau Pengetahuan Terpadu
(tidak dikotomi dan tidak sekuler)
Dari Bagan di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu terpadu itu memiliki karakteristik yang khas Islami, sekaligus merupakan identitas umat Islam dalam berilmu dan berpikir. Secara operasional daya pikir akan terpadu dengan daya zikir maka akan memberikan keseimbangan dalam setiap pekerjaan.
Dalam memandang ilmu Islam tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Membedakan antara ilmu agama lebih penting dari ilmu umum atau sebaliknya ilmu umum lebih penting dari ilmu agama akan membawa umat Islam termarginalkan, menjadi dangkal dalam berpikir, kerdil dalam wawasan dan terisolasi dalam dinamika kehidupan dan derasnya arus globalisasi.
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Mahathir Mohammad dalam ceramahnya di konferensi internasional Tajdid Islam Kedua, di Sepang, Malaysia, dia menekankan pentingnya meraih kembali kejayaan sains dan teknologi untuk kepentingan kemajuan umat Islam. Menurutnya, mempelajari sains dan teknologi sama wajibnya dengan amalan-amalan fardhu lainnya, seperti shalat dan puasa. “Fatal jika umat Islam selama ini memilah-milah ajaran pokok dan tidak pokok, ajaran dunia dan ajaran akhirat. Mestinya kedua-duanya harus dijalankan bersamaan dan diberi posisi yang sama pentingnya”.
D. Membangun Etos Kerja Islami
Untuk mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi yang demikian jauh, umat Islam harus bangkit dari kesadaran untuk menata kembali paradigma pemahaman Al-Quran dan as-Sunah. Kebutuhan mendasar adalah memaknai kembali ayat-ayat yang dapat membangkitkan etos kerja umat Islam agar bergairah kembali menekuni ilmu untuk melakukan observasi, pengamatan, penelitian, dan eksperimen-eksperimen.
Etos kerja bersifat kesadaran dan semangat (greget, gairah) yang bersemayam dalam hati sanubari yang mendorong untuk bekerja dan beramal saleh, sesuai dengan keyakinan akan kebenaran, dengan demikian etos kerja mengandung unsur-unsur; ilmu, semangat, inisiatif, dan motivasi kearah kebajikan ( al-khairat, al-birr, al-hasanat). Etos kerja membuahkan hasil kerja bermanfaat, diberkahi, dan berpahala. Oleh karena itu etos kerja tidak boleh sembarangan, artinya etos kerja harus mengandung makna berkah, mencakup dapat mencukupi diri sendiri dan lingkungannya serta mengembangkannya. Perhatikan Firman Allah berikut ini:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتَرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (105)
Artinya: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah: 105)
Untuk mencapai hasil optimal maka etos kerja harus menunjukkan konsistensi, artinya secara kontinyu harus menampilkan sifat-sifat: a) Ikhlas; b) Rajin dan kerja keras atau gigih; c) Kreatif dan d) Produktif.
Secara sederhana unsur-unsur dan sifat-sifat etos kerja dapat digambarkan dalam Bagan di bawah ini:









Beberapa hadis Nabi Muhammad SAW dan kata-kata hikmah:
1. Kerja keras
إِنَّ الله كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ فَاسْعَوا
Artinya: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kamu berusaha, maka hendaklah kamu rajin berusaha (HR. Thabrani)
2. Ikhlas
لاَ يَقْبَلُ الله مِنَ العَمَلِ اِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغِي بِهِ وَجْهُهُ
Artinya: Allah tidak menerima amalan, melainkan yang ikhlas bagiNya dan yang dituntut dengannya keridaan Allah (HR. Ibnu Majah)
3. Kreatif
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ
Artinya: Kamu lebih mengetahui tentang urusan-urusan duniamu (HR. Muslim)
4. Motivasi
إِنَّمَا اْلأَعْمَلُ بِالنِّّيَاتِ
Artinya: Sesungguhnya amal itu menurut niatnya (motivasi yang menggerakkannya. (HR. Bukhari-Muslim)
5. Ilmu
إِنَّ الله يُحِبُّ الصَّانِعَ الْحَاذِقَ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai tukang yang pandai (AlMatsalul Kamil)
6. Semangat
إِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَاََنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ ِلأَخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غَدًّا
Artinya: Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup kekal, dan beramalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari.
7. Dermawan dan produktif
اليَدُ الْعُلْيَ خَيْرٌ مِنَ اليَدُ السُّفْلَى
Artinya: Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah (HR. Hakim)
III. PENUTUP


A. Kesimpulan
UMAT Islam masih memandang sains dan teknologi sebagai barang sekunder, dan menempatkannya di posisi pinggiran. Dengan pandangan demikian, tidak heran jika umat Islam jauh tertinggal dalam bidang sains dan teknologi. Padahal kedua hal tersebut di masa lalu pernah dikuasai umat Islam sehingga umat Rasulullah ini meraih kejayaannya dan diperhitungkan oleh bangsa dan umat-umat lainnya.
Dari teks-teks agama (Al-Qur’an dan Hadits), dapat dipahami bahwa Islam memberikan dukungan penuh kepada umatnya untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki dalam upaya untuk menguasai dunia dengan ipteknya. Karena bekerja dalam pandangan Islam selama itu mendatangkan manfaat adalah ibadah.
Tapi manusia tidak boleh tergelincir dalam arus globalisasi. Teknologi yang dikembangkan tidak lebih dari sekadar sarana untuk mencapai tujuan yang tinggi yaitu menghambakan diri kepada Al-Khaliq, Allah SWT. Sarana jangan sampai berubah posisi menjadi tujuan. Jika teknologi dan produk peradaban lainnya berubah menjadi tujuan, maka pada saat itu terjadi penyimpangan. Benda/materi akan dipertuhan dan hawa nafsu akan menguasai diri manusia. Individualisme dan arogansi menjadi sifat dan watak kepribadian manusia. Nilai-nilai moral menjadi rapuh dan terancam ambruk. Pada saat itu sinyal-sinyal keruntuhan mulai menyala. Inilah yang dialami oleh bangsa-bangsa di Barat dan di Timur yang telah meninggalkan nilai-nilai agama dalam pembangunannya.



B. Saran
Umat Islam harus melakukan reorientasi sistem pendidikan. Kelemahan mendasar umat Islam, karena tidak mensinergikan ilmu agama dan umum dalam proses pendidikan mereka. Umat Islam di masa lalu maju di bidang sains dan teknologi, tapi mereka juga fasih dalam ilmu agama, Mereka memadukan keduanya. Karena itu, harus ada tajdid sistem pendidikan secara terus menerus.
Dalam melaksanakan kegiatan iptek, Islam menekankan kepada manusia agar memperhatikan masalah "balance" (keseimbangan) yang menjadi ciri khas Islam. Keseimbangan dituntut dalam semua dimensi; antara Ilmu dan Iman, antara duniawi dan ukhrawi, antara ketuhanan (robbaniyah) dan kemanusiaan, antara wahyu dan akal, antara ruh (spiritual) dan materi, antara individu dan masyarakat, antara idealisme dan realita, antara tanggungjawab dan kebebasan, antara kepatuhan dan kreatifitas, antara kewajiban dan hak, antara kontinuitas dan fluktuatif, antara gengsi dan toleransi, dst.
Demikian makalah ini dibuat guna bahan diskusi mata kuliah Teknologi Pendidikan Islam. Kritik dan saran selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA

Eka Sulistiyowati, News Sunan Kalijaga: Biotich sebagai Pendidikan Nilai, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, Edisi V No. 24 November-Desember 2008.
http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A1289_0_3_0_M, diakses Rabu, 25 Pebruari 2009, Jam 09.15
Jaih Mubarak, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005
Rohadi dan Sudarsono, Ilmu dan Teknologi dalam Islam, Jakarta, Dirjen Binbaga Islam, Depag RI, 2005
Sahirul Alim, Menguak Keterpaduan Sains, Teknologi, dan Islam, Yogyakarta: PT. Dinamika Kelompok Titian Ilahi Press, 1996
Tim Perumus Fakltas Teknik UMJ, Al-Islam dan Iptek I, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998
Wahbah Zuhaili, dkk, Ensiklopedi Al-Quran, Jakarta: Gema Insani, 2007
Ziauddin Sardar, Jihad Intelektual: Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam, Surabaya: Risalah Gusti, 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :