Sabtu, April 25, 2009

MERANCANG






MERANCANG, MELAKSANAKAN, DAN MELAPORKAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS *)

Murwati Widiani

A. Pendahuluan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu bentuk penelitian yang paling sesuai untuk mengatasi berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru di kelas. Seorang guru yang melaksanakan PTK akan memperoleh manfaat ganda, baik bagi dirinya, para siswanya, maupun bagi institusi pendidikan. Bagi guru, PTK akan meningkatkan kualitas kinerjanya, meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pembelajaran, sekaligus meningkatkan kemampuan dalam kegiatan pengembangan profesi, khususnya dalam kegiatan penelitian pendidikan. Bagi siswa, dengan PTK, kualitas proses dan hasil belajarnya akan meningkat. Jika kemampuan guru dan siswa meningkat, sekolah juga akan memperoleh keuntungan karena memiliki guru yang profesional dan menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas.
Di samping itu, karya tulis hasil penelitian tindakan kelas akan bermanfaat bagi peningkatah karier dan berimbas pada peningkatan kesejahteraan guru. Misalnya, untuk mengajukan usul kenaikan pangkat ke IV/b dan seterusnya, sebuah laporan PTK yang ditulis dalam bentuk makalah dan cukup didokumentasikan di perpustakaan sekolah mendapatkan poin 4. Jika dalam satu tahun guru melaksanakan PTK satu kali, dalam tiga tahun guru tersebut sudah dapat naik ke IV/b. Dalam usul sertifikasi guru, PTK semacam itu dihargai dengan nilai 10. Belum lagi jika karya tulis hasil PTK dimanfaatkan sebagai naskah lomba karya tulis dan mendapatkan juara. Tampaknya, kini berbagai lomba inovasi pembelajaran, karya tulis hasil PTK mendapatkan perhatian utama dari para juri.
Sayangnya, tidak semua guru mau dan mampu mempraktikkan PTK. Berdasarkan hasil audiensi terhadap guru-guru yang tergabung dalam sebuah MGMP, ada beberapa alasan yang menjadikan guru belum melaksanakan PTK: (1) menganggap PTK sangat sulit dilakukan karena harus banyak membaca berbagai teori yang terkait, (2) belum tahu cara menemukan permasalahan dan solusinya, dan (3) PTK dapat mengganggu proses belajar mengajar sehingga pencapaian kompetensi siswa terhambat. Ketiga alasan itu sebenarnya bermuara dari ketidakpahaman mengenai konsep PTK dan kurangnya kemauan untuk belajar dari berbagai sumber.
Di sisi lain, banyak guru yang sebenarnya telah melaksanakan PTK atau pembelajaran yang mirip dengan PTK, namun tidak menulis laporannya atau tidak mendokumentasikannya sebagai karya tulis. Penyebabnya antara lain karena tidak memahami sistematika laporan PTK atau kesulitan dalam mendeskripsikan hasil PTK sehingga stagnan ketika menulis. Bahkan pernah diungkapkan oleh Prof. Dr. Pujiati Suyoto, dosen Pascasarjana UNY, banyak mahasiswa yang memilih PTK sebagai tesis tidak dapat menyelesaikan laporannya dalam jangka waktu relatif lama. Kebanyakan mereka berpendapat bahwa PTK mudah dirancang dan dilaksanakan, namun sulit dilaporkan.
Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa hal: (1) Apakah Penelitian Tindakan Kelas itu?, (2) Bagaimanakah merancang PTK?, (3) Bagaimanakah melaksanakan PTK?, dan (4) Bagaimanakah melaporkan PTK menjadi karya tulis hasil penelitian?


B. Apakah Penelitian Tindakan Kelas itu?

Ada beberapa pengertian tentang PTK yang dikemukakan para ahli. Menurut Kemmis (via Sukamto, 2000:6) penelitian tindakan merupakan sebuah inkuiri yang bersifat reflektif mandiri yang dilakukan oleh partisipan dalam situasi sosial termasuk kependidikan dengan maksud untuk meningkatkan kemantapan rasionalitas dari (a) praktik-praktik sosial maupun kependidikan, (b) pemahaman terhadap praktik=praktik tersebut, (c) situasi pelaksanaan praktik-praktik pembelajaran.
Suyanto, 1997 (Leo Idra Ardiana, 2003:4) mengemukakan definisi bahwa PTK merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional.
”The method of action research involves a self-reflective spiral of planning, acting, observing, reflecting, and re-planning.” (McNiff, 1988:7). Pada pelaksanaan PTK, guru terus-menerus mengadakan refleksi, merencanakan tindakan, dan melaksanakan tindakan pada tahap berikutnya. Oleh sebab itu, PTK merupakan proses bersiklus, setiap siklusnya terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Dari konsep di atas dapat dikatakan bahwa PTK berawal dari kesadaran guru akan adanya permasalahan di kelas, kemudian guru berusaha mencari solusi, merancang dan menerapkan solusi, mengamati hasil penerapan solusi, menemukan kekurangan, kembali menyusun rancangan tindakan yang diperbaiki, dan seterusnya. Itulah sebabnya dalam PTK harus ada siklus. Banyaknya siklus tergantung pada ketercapaian keberhasilan tindakan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. PTK minimal terdiri atas dua siklus.

Menurut Hopkins sebagaimana dikemukakan oleh Leo Idra Ardiana (2003:8) ada enam prinsip penting dalam penelitian tindakan kelas. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya.
2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. Oleh sebab itu, sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif bertugas sebagai guru secara penuh.
3. Metode yang digunakan harus cukup reliabel sehingga memungkinkan guru mengidentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya.
4. Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya.
5. Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersipak konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Prakarsa penelitian harus dikemukakan kepada pimpinan lembaga, disosialisasikan kepada teman sejawat, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah, di samping tetap mengedepankan kemaslahatan peserta didik.
6. Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. Artinya, permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan dari perspektif misi dan misi sekolah secara keseluruhan.
Dengan mencermati pengertian PTK, dapat disimpulkan bahwa PTK bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran. Dengan PTK diharapkan kualitas proses pembelajaran menjadi lebih baik. Guru dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanannya dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat.

C. Bagaimanakah merancang PTK?
Hal pertama yang harus dilakukan dalam merancang PTK adalah menetapkan fokus masalah penelitian. Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam tahap ini.

1. Merasakan Adanya Masalah
Banyak guru yang mungkin bertanya bagaimanakah memulai penelitian tindakan kelas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, guru harus memiliki perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang dilakukannya. Jika guru merasa selalu puas terhadap apa yang dilakukannya, meskipun sebenarnya masih sangat benyak kekurangan dan hambatan dalam proses pengelolaan, sulit kiranya bagi guru untuk memiliki inisiatif memulai PTK.
Oleh karena itu, agar guru dapat mempraktikkan PTK, ia dituntut untuk berkata jujur terutama pada dirinya sendiri untuk mengakui bahwa masih ada kekurangan dalam proses pembelajran yang dikelolanya. Dengan kata lain, guru harus merefleksi, merenung, serta berpikir balik mengenai apa saja yang telah dilakukannya dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi sisi-sisi lemah yang mungkin ada.
Untuk membantu merasakan adanya masalah, guru dapat mengajukan pertanyaan: Apakah kompetensi awal siswa yang mengikuti pembelajaran cukup memadai? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif? Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur, akan muncul masalah yang dapat dijadikan pijakan awal untuk melakukan PTK karena pada dasarnya tidak ada satu pun keadaan guru, siswa, atau kelas yang sempurna.

2. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini, guru berusaha menghasilkan gagasan-gagasan awal mengenai permasalahan awal yang aktual yang dialami dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berkaitan dengan manajemen kelas dan iklim belajar, proses belajar mengajar, proses belajar dan perkembangan personal. Tiap-tiap kelompok tersebut dapat dijabarkan ke dalam tema-tema yang lebih operasional.
Cara melakukan identifikasi masalah dapat menggunakan langkah berikut:
• Menuliskan semua hal yang dirasakan memerlukan perhatian dan kepedulian karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terjadi, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran.
• Kemudian pilahkan dan klasifikasikanmenurut jenis/bidang permasalahnnya, jumlah siswa yang mengalami, dan tingkat frekuensi timbulnya masalah
• Urutkan dari yang ringan, jarang terjadi, dan banyaknya siswa yang mengalami permasalahan yang teridentifikasi
• Dari setiap urutan, ambillah 3 – 5 masalah dan konfirmasikan kepada guru mata pelajaran yang sama atau serumpun.
• Jika yang dirumuskan ternyata mendapat konfirmasi (diakui sebagai masalah yang urgen untuk dipecahkan), masalah tersebut patut diangkat sebagai calon masalah PTK.



3. Analisis Masalah
Analisis masalah dilakukan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi yang akan diambil. Analisis masalah adalah kajian terhadap permasalahan dilihat dari segi kelayakannya. Sebagai acuan, dapat diajukan pertanyaan sebagai berikut.
• di mana konteks, situasi atau iklim masalah terjadi
• kondisi prasarat apakah yang menimbulkan terjadinya masalah
• bagaimanakah keterlibatan komponen, aktor dalam terjadinya masalah
• adakah alternatif solusi yang dapat diajukan
• apakah pemecahan masalah yang akan diambil memerlukan durasi waktu yang tidak terlalu lama
Analisis masalah digunakan untuk merancang rencana tindakan, baik dalam bentuk spesifikasi tindakan, keterlibatan aktor yang berkolaborasi, waktu dalam satu siklus, identifikasi indikator keberhasilan tindakan, dan hal-hal yang terkait dengan solusi yang diajukan.
Selain itu, setelah masalah dianalisis, peneliti dapat menentukan judul PTK. Judul PTK biasanya mencerminkan adanya permasalahan, adanya tujuan, dan adanya solusi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan. Membuat judul PTK untuk dilaporkan pada lembaga dan untuk dijadikan naskah lomba memiliki perbedaan. Sebagai laporan pada lembaga cukup dibuat dengan bahasa yang lugu, tetapi sebagai naskah lomba, judul PTK haruslah menarik, inovatif, dan provokatif. Conto judul PTK adalah sebagai berikut.
• Peningkatan Kemampuan Apresiasi Puisi melalui Strategi Cooperative Learning Siswa Kelas XI Bahasa MAN Yogyakarta II (Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)
• Pengaruh Penggunaan Slede-Tape terhadap Peningkatan Minat dan Hasil Belajar Siswa dalam Pengajaran Biologi di Kelas II SMP Karang Kates
Contoh-contoh judul PTK yang berhasil masuk final di LKIG LIPI adalah sebagai berikut.
• Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika dengan Permainan Sulap Matematika – Soleh Mawardi, SMP 1 Ngajum, Malang
• Media Cakram Persilangan sebagai Alat Bantu Pembelajaran Genetika – Suminto, MTsN Bima, NTB
• Peningkatan Pemahaman Konsep Listrik Statis melalui Miako – Gufron, SMPN 2 Tanggul, Jember
• Pembuatan Mikroskop Digital untuk PBM IPA Terpadu di SMA – Sutiyana, SMA Karangturi, Semarang
• Pemanfaatan Kol Ungu (Brassica Oleracea) sebagai Alternatif Pengganti Larutan Indikator Universal dalam Pembelajaran Kimia – Bambang Suhartawan, SMA 1 Jayapura
• Pendidikan Saling Temas yang Bermuatan Lokal (Penerapan di Gunungkidul, Yogyakarta) – Kisworo, SMP 4 Patuk, GK
• “Dari ‘Samdesing’ hingga Tepuk Tangan” Upaya Meningkatkan Kompetensi Mendongeng melalui Penerapan Strategi “BABAK” – Sutrisno, SMP 1 Tepus, GK
• Mengantarkan Siswa Menggapai Bintang Panggung Sastra dengan Menerapkan Teknik Kolase – Basuki, SMP 21 Malang
• Penerapan Metode “DIKSI”, Sebuah Upaya Meningkatkan Kulitas Pembelajaran Membacakan Puisi – Murwati Widiani, SMA Muh. Pakem
• “Sehati” sebagai Model Baru Pembelajaran Sosiologi di SMA – Zulkarnaen Syri Lokesywara, SMA 1 Jatinom, Klaten
• Membuat kamus Kecil Interaktif Menggunakan Program Komputer Sederhana – Rapiq, MAN Insan Cendekia Serpong
4. Merumuskan Masalah
Selanjutnya, masalah-masalah yang diidentifikasi dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh perumusan masalah:
• Bagaimanakah pelaksanaan model pembelajaran strategi cooperatif learning dalam pembelajaran menulis?
• Apakah stategi cooperatif learning dapat meningkatkan kemampuan menulis eksposisi pada siswa kelas X.1?
• Bagaimanakah implementasi pembelajaran Biologi dengan metode MiMiKri di SMA sehingga dapat menumbuhkembangkan kepedulian terhadap lingkungan?
• Seberapa jauh efektivitas Metode MiMiKri dalam proses pembelajaran Biologi di SMA dapat mengembangkan keterampilan proses ilmiah dan kepedulian terhadap lingkungan pada siswa?
• Bagaimanakah penerapan metode ”DIKSI” dalam pembelajaran membacakan puisi?
• Bagaimanakah kualitas proses pembelajaran setelah diterapkan metode ”DIKSI”?
• Bagaimanakah peningkatan kompetensi siswa dalam keterampilan baca puisi setelah diterapkan metode ”DIKSI”?
• Apakah media pembelajaran maket dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap bentuk muka bumi?
• Apakah media pembelajaran maket bentuk muka bumi dapat meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran geografi?

Setelah fokus masalah penelitian ditetapkan, kegiatan tahap berikutnya adalah merencanakan tindakan. Kegiatan ini meliputi dua hal, yakni formulasi hipotesis tindakan dan persiapan tindakan.

1. Formulasi Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan adalah dugaan terhadap perubahan yang akan terjadi setelah suatu tindakan dilakukan. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang akan diambil akan dapat memperbaiki sistem, proses, atau hasil. Contoh hipotesis tindakan:
• Jika stategi cooperatif learning diterapkan pada pembelajaran menulis, kemampuan menulis eksposisi pada siswa kelas X.1 akan meningkat.
• Dengan penerapan metode MiMiKri pada pembelajaran Biologi di SMA, kepedulian siswa terhadap lingkungan dapat ditumbuhkembangkan.
• Dengan menerapkan metode ”DIKSI” pada pembelajaran membacakan puisi, kualitas proses pembelajaran akan meningkat.
• Dengan menerapkan metode ”DIKSI” pada pembelajaran membacakan puisi, kompetensi siswa dalam keterampilan baca puisi akan meningkat.
• Dengan media pembelajaran maket, pemahaman konsep siswa terhadap bentuk muka bumi dapat ditingkatkan.
• Dengan media pembelajaran maket bentuk muka bumi, minat belajar siswa pada pelajaran geografi akan meningkat.

2. Persiapan Tindakan
Hal-hal yang harus dilakukan dalam persiapan tindakan adalah:
• Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran.
• Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan.
• Mempersiapkan instrumen penelitian, seperti lembar observasi.
• Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan

D. Bagaimanakah Melaksanakan PTK?
Melaksanakan PTK adalah melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, melakukan observasi dan interpretasi, serta menganalisis data, evaluasi dan refleksi.

1. Melaksanakan Tindakan
Melaksanakan tindakan pada hakikatnya adalah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dipersiapkan. Sesuai dengan skenario pembelajaran, guru dan siswa mengikuti langkah-langkah kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan ini, guru didampingi oleh kolaborator yang bertindak sebagai observator.

2. Observasi dan Interpretasi
Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan observasi dilakukan oleh guru yang bersangkutan dan kolaborator. Guru dapat menggunakan catatan harian sebagai alat untuk mencatat hal-hal penting yang terjadi dalam proses pembelajaran. Adapun kolaborator dapat menggunakan lembar observasi. Lembar observasi dapat dibuat dengan kolom-kolom yang berisi kegiatan guru dan siswa dan frekuensi. Namun, dapat juga berupa lembar kosong yang dapat digunakan untuk mencatat semua kejadian, perilaku siswa dan guru, dan semua temuan yang berarti, baik yang bersifat positif maupun negatif. Temuan dapat ditulis berdasarkan hasil interpretasi. Kegiatan observasi dilanjutkan dengan diskusi setelah pelaksanaan tindakan.

3. Analisis Data, Evaluasi, dan Refleksi
Analisis data, baik berupa data kuantitatif (angka atau nilai) maupun kualitatif dari hasil pelaksanaan tindakan dan observasi dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melelui seleksi, pengelompokan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna. Paparan data merupakan suatu upaya untuk menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, tabel, grafik, atau bentuk paparan lainnya yang dapat memberikan gambaran jelas tentang proses dan hasil tindakan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasi dalam bentuk pernyataan atau kalimat singkat, padat, dan bermakna.
Hasil analisis dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang dicapai. Guru dan kolaborator dapat mem\nggunakan criteria keberhasilan pencapaian pada siklus. Indikator dalam kriteria dapat berwujud kuantitatif dan kualitatif. Misalnya indikator keberhasilan kuantitatif dinyatakan dengan ”Hasil belajar siswa dapat meningkat jika 85% siswa meraih nilai 75”. Indikator kualitas misalnya ”Proses belajar dikatakan meningkat jika ada kerja sama siswa dalam proses pembelajaran”.
Kegiatan refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang belum tercapai, mengapa demikian, apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk memperbaiki rancangan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya.

E. Bagaimanakah Menulis Laporan PTK?
Alur sebuah penelitian pada akhirnya bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Oleh sebab itu, laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian. Laporan merupakan pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya. Jika penelitian dilakukan dengan dukungan dana dari sponsor, laporan juga merupakan bentuk pertyanggungjawaban terhadap lembaga atau badan sponsor yang mendukung penelitiannya (Leo Idra Ardiana, 2003:48).
Laporan PTK dapat beragam bentuk dan formatnya sesuai dengan gaya selingkungnya atau apa yang diinginkan lembaga, badan sponsor, atau instansi yang mengadakan lomba, jika laporan PTK dilombakan. Namun, secara umum, penyusunan laporan dapat dilakukan dengan mengikuti aturan sebagai berikut.


Bagian Pengantar:
Halaman Judul
Halaman Persetujuan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar dan Lampiran
Abstrak


Bagian Isi:
Bab I Pendahuluan
Bab II Kajian Teori
Bab III Metodologi
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab V Kesimpulan dan Saran


Bagian Penunjang:
Daftar Pustaka,
Lampiran-lampiran


Uraian Isi Bab Laporan PTK adalah sebagai berikut.

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian

Latar Belakang Masalah, menjelaskan rasional atau justifikasi (alasan) penelitian dilihat dari latar belakang pemilihan permasalahan yang diteliti. Bagian ini berisi paparan kondisi ideal yang dipertentangkan dengan kondisi nyata yang terjadi di kelas, dilanjutkan dengan solusi yang diambil atau pilihan tindakan yang ditetapkan.

Identifikasi Masalah, berisi kajian berbagai permasalahan yang ditemukan di kelas yang dirumuskan menjadi tema-tema yang operasional.

Rumusan Masalah berisi masalah PTK yang telah dipilih, disajikan secara lugas dan jelas. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan kalimat pertanyaan atau kalimat bentuk narasi. Rumusan masalah dapat dibagi sampai pada sub-sub masalah.

Tujuan Penelitian, menyatakan target penelitian yang akan dicapai. Banyaknya tujuan penelitian tidak harus sama dengan banyaknya masalah dalam rumusan masalah.

Manfaat Penelitian, menjelaskan manfaat temuan penelitian, baik yang bersifat teoretis maupun praktis.

Bab II
Kajian Teori
A. Landasan Teori
B. Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir
D. Perumusan Hipotesis Tindakan

Landasan Teori, berisi ringkasan dan tinjauan teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Misalnya, jika tindakan yang dipilih adalah menerapkan metode ”DIKSI” (diskusi, kolaborasi, dan aksi/lomba) pada pembelajaran membacakan puisi, teori yang harus dikaji adalah teori belajar sosial, cooperatif learning, pembelajaran kontekstual, kuantum learning, dan teori belajar yang menyenangkan. Landasan teori berfungsi sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan, dasar untuk mendapatkan jawaban yang diandalkan, dan sebagai alat yang membantu memecahkan masalah.

Penelitian yang Relevan, berisi penelitian terdahulu yang terkait dengan tindakan yang dipilih pada PTK. Penelitian yang relevan dikemukakan untuk menghindari duplikasi, mendukung atau menolak penelitian yang lalu, untuk mengembangkan teori baru, dan sebagai titik tolak dari penelitian yang dilakukan. Bagian ini pada beberapa lembaga tidak diharuskan ada.

Kerangka Pikir, berisi gambaran pola hubungan antara latar belakang dan teori-teori yang dikemukakan. Kerangka pikir juga merupakan kerangka konseptual yang akan digunakan untuk memecahkan masalah yang diteliti, disusun berdasarkan kajian teoretis yang telah dilakukan. Kerangka pikir merupakan pendapat dan pandangan penulis terhadap teori yang dikemukakan.

Perumusan Hipotesis Tindakan, berisi rumusan dugaan sementara terhadap permasalahan yang diteliti. Oleh karena itu, hipotesis perlu dirumuskan secara singkat, lugas, dan jelas yang dinyatakan dalam kalimat bentuk pernyataan. Hipotesis dalam PTK merupakan keyakinan akan keberhasilan jika sebuah tindakan dilakukan.

Bab III
Metodologi Penelitian
A. Setting Penelitian
B. Prosedur Penelitian
C. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
D. Teknik Analisis Data
E. Kriteria Keberhasilan Tindakan


Setting Penelitian berisi tempat dan waktu PTK dilakukan, menjelaskan di kelas berapa, SMA mana, dan kapan penelitian dilakukan (misalnya semester 1 tahun 2006/2007).

Prosedur Penelitian berisi langkah-langkah PTK, yakni terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Teknik Pengumpulan data dan Instrumen Penelitian, menjelaskan semua alat pengumpul data yang digunakan, proses pengumpulan data, dan teknik penentuan kualitas instrumen.

Teknik Analisis Data, menjelaskan berbagai teknik analisis yang dipilih beserta alasannya. Misalnya teknik analisis data kuantitatif, yakni mendeskripsikan data, menafsirkan, dan menyimpulkan dengan pernyataan-pernyataan, bukan angka.

Kriteria Keberhasilan Tindakan berisi ukuran atau indikator yang ditetapkan untuk menentukan keberhasilan tindakan yang dilakukan.

Bab IV
Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
1. Kondisi Awal Pratindakan
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
B. Pembahasan


Hasil Penelitian, berisi informasi awal kondisi siswa atau kelas sebelum dilakukan tindakan, misalnya bagaimana kemampuan siswa dalam membacakan puisi, minat dan motivasi belajar siswa pada materi puisi, metode yang selama ini diterapkan guru, dan sebagainya. Pelaksanaan tindakan masing-masing terdiri atas perencanaan, implementasi tindakan, observasi, dan refleksi. Perencanaan menjelaskan bagaimana guru merencanakan tindakan sesuai dengan permasalahan yang diajukan. Pelaksanaan dijelaskan dengan bagaimana langkah-langah yang dilakukan guru dan siswa. Bagian observasi menjelaskan hasil observasi yang dinterpretasi sehingga ditentukan keberhasilan tindakan. Bagian refleksi berisi hal-hal yang belum tercapai/berhasil, mengapa demikian, dan apa yang harus dilakukan pada tahap berikutnya.

Pembahasan Hasil Penelitian berisi penafsiran dan pemaknaan terhadap semua hasil penelitian yang ada. Bab ini berisi jawaban terhadap permasalahan yang diajukan. Misalnya bagaimanakah peningkatan kualitas hasil belajar siswa setelah diterapkan metode X. Penjelasan dapat dipaparkan dengan tabel, grafik, dan sejenisnya agar lebih mudah dipahami dan dimaknai. Peneliti juga harus memberikan penafsiran untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana hasil-hasil penelitian itu terjadi.

Bab V
Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
B. Saran

Kesimpulan, menyimpulkan hasil penelitian secara tegas dan lugas sesuai dengan permasalahan penelitian (merupakan jawaban dari rumusan permasalahan yang diajukan).

Saran, didasarkan pada kesimpulan penelitian yang diperoleh, dijabarkan secara terinci, bersifat operasional dan mudah dimengerti.

F. Penutup

Dalam melaksanakan PTK, guru bekerja sama dengan kolaborator mulai dari proses mengidentifikasi masalah, merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, observasi, dan refleksi. Kolaborator dapat ditentukan dari teman sejawat yang mengampu pelajaran yang sama atau serumpun, dapat dari sekolah sendiri maupun sekolah lain.
Laporan PTK merupakan bentuk pertanggungjawaban peneliti terhadap ilmu yang digelutinya, juga terhadap lembaga yang membiayainya. Oleh karena itu, seorang guru yang telah melakukan PTK, tetapi tidak menulis laporan dapat diartikan kurang bertanggung jawab terhadap tugas profesinya.
Penelitian tindakan kelas dapat dikatakan sebagai upaya guru untuk memperbaiki kekurangan, memecahkan permasalahan riil yang terjadi pada praktik pembelajaran di kelas. PTK sama sekali tidak menggangu proses pembelajaran. Sebaliknya, dengan PTK justru pencapaian kompetensi siswa akan dapat terlaksana. Dengan PTK, kualitas pembelajaran siswa meningkat, kemampuan profesi guru dalam hal meneliti juga meningkat. Dengan meningkatnya kemampuan profesi guru, semoga akan meningkat pula harkat, martabat, dan kesejahteraan guru. Selamat ber-PTK.




DAFTAR PUSTAKA

Leo Idra Ardiana. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mc Niff, Jean. 1988. Action Research: Principles and Practice. Great Britain: Mackays of Chatham.

Sukamto. 2000. Pedoman Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Tinggi

Yoko Rimy. 2006. Penelitian Tindakan Kelas (Makalah). Yogyakarta: LPMP.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :