Kamis, April 23, 2009

SITI IMZANAH

Siti imzanah


BAB I
PENDAHULUAN

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang diharapkan dari alat-alat teknologi pendidikan untuk membantu mengatasi berbagai masalah pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara individual dengan lebih efeklif dan efisien.
Alat-alat teknologi pendidikan dapat mengubah peranan guru. Namun, peranan guru tidak akan dapat ditiadakan dan akan selalu diperlukan. Mengawinkan teknologi dengan pendidikan dapat mengejutkan profesi guru, sebab teknologi diasosiasikan dengan mesin yang dapat menimbulkan Lahaya dehumanisasi pendidikan yaitu pendidikan yang "mechanicar yang serba mesin, yang menghilangkan unsur manusiawi yang selalu terdapat dalam interaksi sosial antara guru dan murid dan antara murid dengan murid dalam pelajaran biasa. Pengalaman dengan alat teknologi pendidikan membuktikan bahwa dalam proses belajar mengajar guru tetap memegang peranan yang penting.
Pemanfaatan teknologi komunikasi untuk kegiatan pendidikan, teknologi pendidikan serta media pendidikan sangat diperlukan dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Karena dengan pendekatan ilmiah, sistemads dan rasional sebagaimana dituntut oleh teknologi pendidikan ini pula. Tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian (analisis) yang sistematis ilmiah dan rasional seperti yang dikehendaki oleh teknologi pendidikan dan media pendidikan.
Upaya yang dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat adalah dengan jalan memanfaatkan teknologi pendidikan atau mengelola pendidikan, khususnya proses belajar melalui pendekatan teknologis. Teknologi pendidikan sangat relevan bagi pengelolaan pendidikan pada umumnya dan kegiatan belajar mengajar pada khususnya.
Disinilah perubahan budaya dari tidak mengerti menjadi mengerti memerlukan alat bantu secara tehnis. “Tehnologi” bahasa kerenya, dalam mempelajari Al-Qur’an sangat diperlukan. Dan hal ini seperti yang tersirat dalam kitab Allah QS. Al Alaq ayat 1-5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

BAB II
TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM FUNGSI
PROSES PEMBELAJARAN
A. Media Pendidikan dan Proses Pembelajaran
Dalam pembelajaran pada hakekatnya terdapat dua proses yang saling keterkaitan dan ddak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu proses belajar dan proses mengajar. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan ligkungannya. Apabila mengajar kita pandang sebagai kegiatan atau proses yang terarah dan terencana yang mengusahakan agar terjadi proses belajar pada diri seseorang maka pendapat bahwa seseorang belajar karena ada yang mengajar tidaklah benar.
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang yang berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan ringkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotorik) maupun menyangkut nilai dan sikap (afekrif).
Seseorang telah belajar apabila terdapat perubahan ringkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut hendaknya terjadi sebagai akibat interaksinya dengan lingkungannya, tidak karena proses pertumbuhan fisik/kedewasaan, ridak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. Selain itu, perubahan itu haruslah bersifat relatif permanen, tahan lama dan menetap, ridak berlangsungsesaat saja. Dalam hal ini guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan dan fungsinya dalam proses belajar mengajar sangatlah penting.
Kalau dilihat dari sejarah perkembangan profesi guru, tugas mengajar sebenarnya adalah pelimpahan dari tugas orang tua, karena ridak mampu lagi memberikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap-sikap tertentu sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan berkembangnya masyarakat serta budaya pada umumnya, maka berkembang pulalah tugas dan peranan guru seiring dengan berkembangnya jumlah anak yang memerlukan pendidikan.
Pada zaman Socrates, ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada siswanya adalah hasil penemuan atau daya pikir Socrates sendiri. Perkembangan selanjutnya membukrikan bahwa situasi semacam itu ridak mungkin untuk dipertahankan. Suatu proses belajar mengajar akan lebih efektif apabila ada media atau alat yang mendukungnya seperri film atau video dan sebagainya. Hal itu akan lebih konkret daripada pemaparan secara verbal. Dengan adanya media atau alat-alat yang mendukung dalam proses pembelajaran, maka mau ridak mau guru atau instruktur suatu latihan hams mengakui bahwa mereka bukanlah satu-satunya sumber belajar. Apabila kita pakar isrilah belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar hendaklah diartikan bahwa proses belajar mengajar pada diri siswa terjadi baik karena ada yang secara langsung mengajar (guru, instruktur) atau secara tidak langsung. Diharapkan siswa mampu atau aktif berinteraksi dengan media atau sumber belajar yang lain. Guru atau instruktur hanyalah satu dari begitu banyak sumber belajar yang dapat memungkinkan siswa belajar.
Kegunaan media pendidikan dalam proses belajar mengajar secara umum adalah sebagai berikut:
a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis/lisan).
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, misalnya:
1. Objekyang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar atau model.
2. Objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai atau gambar.
3. Gerak yang terlalu lambat atau cepat dapat dibantu dengan timelapse arau high speed photography.
4. Kef adian/peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film dan video.
5. Objek yang terlalu kompleks (misalnya desain mesin) dapat disajikan dengan model dan diagram.
6. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim dapat divisualkan dalam bentuk film.
c. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik, dalam hal ini :
1. Menimbulkan kegairahan belajar.
2. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
3. Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
d. Dengan sifat yang unik pada setiap anaL didik ditambah lagi dengan lin£Kungi2ii dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk sedap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan apabila semuanya harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan yaitu dengan kemampuannya dalam :
1. Memberikan perangsang yang sama.
2. Mempersamakan pengalaman.
3. Menimbulkan persepsi yang sama.

B. Alat-alat dalam Teknologi Pendidikan
Banyak tokoh teknologi pendidikan, seperti Thorndike, Pressey, Pavlov, Skinner, Crowder, dan sebagainya. Kemajuan yang dicapai manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi membuatnya berkembang semakin cepat. Dalam rangka kegiatan pendidikan ada beberapa media yang dipergunakan, mulai yang paling sederhana sampai kepada yang tercanggih. Beberapa alat teknologi pendidikan yang dimak-sudkan antara lain:


a. Papan tulis
Papan tulis mempunyai nilai tertentu, seperti penyajian bahan dapat dilakukan secara jelas, kesalahan tulisan dapat dengan jelas diperbaiki dan dapat merangsang anak untuk aktif. Penggunaan papan tulis ini memerlukan ketrampilan khusus dan kerajinan membersihkannya.
b. Bulletin Board dan Display
Alat ini biasanya dibuat secara khusus dan digunakan untuk memperlihatkan pekerjaan siswa; gambar-gambar badan, postur, objek berdimensi lainnya. Alat ini mempunyai nilai tertentu, karena dapat digunakan sebagai papan pengumuman kelas, menambah pengalaman baru, menambah kecakapan arrisrik, merangsang inisiarif krearivitas, dan sebagainya.
c. Gambar dan Ilustrasi Photography
Gambar ini ridak diproyeksikan terdapat di sekitar kita dan relarif mudah diperoleh untuk ditunjukkan kepada anak Gambar ini bersifat konkret, tidak terbatas pada ruang dan waktu, membantu memperjelas masalah, membantu kelemahan indra dan mudah digunakan.
d. Slide dan Film Stripe
Merupakan gambar yang diproyeksikan, dapat dilihat dan mudah dioperasikan. Nilai-nilai tertentu dari alat ini yaitu memudahkan penyajian seperangkat materi tertentu, membangkitkan minat anak, keseragaman informasi, dapat dilakukan secara berulang dan menjangkau semua bidang pelajaran.
e. Film
Film pendidikan dianggap efektif digunakan sebagai alat bantu pengajaran. Film yang diputar di depan siswa har us merupakan bagian integral dari kegiatan pengajaran.
Dengan film, dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar, memancing inspirasi baru, menarik perhatian, penyajian Iebih baik karena mengandung nilai-nilai rekreasi, dapat memperlihatkan perlakuan objekyangsebenarnya, menjelaskan hal-hal abstrak, dan lain-lain.

f. Rekaman Pendidikan
Sering disebut recording, yaitu alat audio yang tidak diikuti dengan visual. Melalui alat ini kita dapat mendengarkan cerita, pidato, musik, sejak, pengajian, dan lain-lain. Rekaman ini sering dilakukan oleh kelompok individu/siswa, misalnya ceramah guru.
g. Radio Pendidikan
Radio pendidikan biasanya tidak dipergunakan penuh langsung untuk tujuan pendidikan dan biasanya siaran khusus untuk pendidikan diatur dengan jadwal.
h. Televisi Pendidikan
TV pendidikan dianggap barang mewah karena sulit dijangkau. Menurut Yusuf Hadi (1980), penggunaan TV dapat dilakukan dengan berbagai alternarif:
1. Televisi siaran, yaitu pemancaran melalui saluran televisi umum engan bebas pancaran meluas atau tidak tertuju ke arah tertentu dan bersifat terbuka (open circuit).
2. Televisi rangkaian tertutup yang pancarannya ridak dapat melalui kabel koasial atau gelombang mikro di perlukan peralatan penerimaan khusus.
3. Teknisi pengajaran dengan pelayanan tertentu (instructional TV fixed service) yaitu sistem pemancaran dan penerimaan TV pada frekuensi istimewa yang khusus dialokasikan.
4. TV slow scan yaitu sistem pemancaran gambar mad secara bertahap dengan melalui saluran telepon atau radio biasa.
5. TV time shared yaitu rangkaian sistem yang satu saluran TV memancarkan misalnya 300 gambar mad kepada 300 penonton yang berlainan, masing-masing untuk 30 detik.
6. Tele blackboard, yaitu suatu teknik yang dikembangkan oleh ITB dengan bekerjasama dengan TH Delf yang mampu memamcarkan secara serentak suara tulisan dan garis yang dibuat di sebidang papan khusus.


i. Peta dan Globe
Peta adalah penyajian visual dari muka bumi. Globe adalah bola bumi atau model.
j. Buku Pelajaran
Merupakan alat pelajaran yang paling populer dan banyak digunakan di tengah-tengah penggunaan alat pelajaran lainnya.
k. Overhead Projector (OHP)
OHP atau proyektor lintas kepala memproyeksikan pada layar sesnatu yang te-gambar atau tertulis pada kertas transparan/mika dan dapat digunakan tanpa Ldru5.menggelapkan ruangan.
l. Tape Recorder
Sangat serasi untuk pelajaran bahasa. Keuntungannya murid dapat mendengarkan kembali apa-apa yang dibacanya, dapat digunakan dalam interview, memudahkan pemahamafi terhadap penugasan anak terutama dalam pelajaran bahasa.
Alat teknologi pendidikan lainnya adalah mesin belajar dan belajar berprogram, laboratorium bahasa, komputer, model, pameran, museum sekolah, dramatisasi dan demonstrasi, manusia sumber, survey masyarakat, pelayanan terhadap masyarakat, kemah kerja lapangan disebut juga merupakan media pendidikan yang mengandung nilai pendidikan. Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Teknologi pendidikan merupakan media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan pendidikan. Pemanfaatan teknologi komunikasi dalam kegiatan pendidikan dan teknologi pendidikan itu sendiri mudak perlu dalam rangka kegiatan belajar mengajar karena dengan pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional, tujuan pendidikan yang afektif dan efisien dapat tercapai.
2. Pemanfaatan media pendidikan mempunyai implikasi tertentu dalam proses belajar mengajar, sesuai dengan ciri dan kegunaan masing-masing media tersebut. Teknologi pendidikan itu sendiri menyangkut perangkat keras dan lunak yang dalam prakteknya biasanya saling mengisi.
3. Teknologi pendidikan mempunyai and tertentu dalam kegiatan belajar mengajar, seperti pendidikan lebih produktif, memungkinkan pengajaran lebih individual, ilmiah dan luas.
4. Pemanfaatan media teknologi pendidikan yang beraneka ragam itu menuntut ketrampilan tersendiri dari para pelaksana pendidikan.

C. Tehnologi Dalam Dinamika Pembelajaran
Pada awal tahun 2008, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) telah diberi kepercayaan dan mendapatkan SK Dirjen DIKTI No: 548/D/T/2008 untuk menyelenggarakan Program studi Teknik Informatika di Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknik. Sehingga Program studi Teknik Informatika Unsoed sudah membuka penerimaan calon mahasiswa baru mulai tahun akademik 2008/2009 ini. Program studi Teknik Informatika Unsoed diharapkan bukan hanya melaksanakan pengembangan ilmu, juga ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan potensi sumber daya manusia Indonesia agar dapat berkiprah secara global.
Oleh karena itu muncul pemikiran untuk menyelenggarakan suatu Seminar Nasional sebagai sarana memperkenalkan Program studi Teknik Informatika Universitas Jenderal Soedirman kepada masyarakat luas. Nama kegiatan ini adalah Grand Opening Program Studi Teknik Informatika, dan mengambil tema Teknologi Informasi untuk Semua (IT for All).
Sesi ini lebih berbentuk pentaloka daripada seminar. Kita bekerjasama untuk membuka dan membahas beberapa isu yang perlu dibahas supaya teknologi pendidikan dapat sebagai ilmu yang mendukung pembelajaran, bukan hanya mimpi.

1. Apakah kita perlu belajar Teknik / Teknologi Informatika, mengapa? Group Discussion)
Siapa yang perlu belajar Ilmu TI?
Orang yang kerja di profesi apa? Mengapa?
(Di dalam diskusi peserta memutuskan bahwa pengetahuan TI dapat membantu SDM di semua profesi maupun kejuruan)
Semua Peserta Setuju Bahwa Ilmu Teknik Informatika Adalah Sangat Penting

2. Kita perlu apa untuk belejar/mengajar?


Apa hal-hal yang penting kalau kita ingin belajar/mengajar?
(Peserta-peserta membagi isu-isu mereka dengan group dan menulis di kertas besar.)


3. Apa isu-isu yang mereka angap adalah paling penting untuk belejar/mengajar?
(Yang muncul: minat, motivasi dan situasi yang aman dan nyaman)
Saya mempunyai empat (4) komputer di rumah dengan program presentasi yang lengkap.
4. Mengapa saya memilih teknologi kertas dan pena untuk presentasi ini?
(karena menurut saya teknologi ini adalah yang paling cocok1)
5. Teknologi masuk ke mana dalam isu-isu pembelajaran? Apa peran dan pentingnya teknologi?
(Teknologi hanya sebagai medium. Teknologi adalah beberapa alat bantu untuk
di mana aplikasinya cocok)
6. Apa satu-satunya teknologi yang kita perlu menggunakan setiap kali kita mengajar?
(Otak Kita - lengkap dengan Imaginasi Tanpa Batas!)
Mengajak peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan dan pembahasan topik. Kita sebagai pengajar harus menjaga supaya pelajar kita belajar secara aktif. Banyak teknologi baru (seperti Komputer dan Data Projector) dapat membuat peran pelajar sangat pasif dalam proses pembelajaran.

Apa Solusinya Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan?
"Konsumsi Anak terhadap Siaran Televisi, Internet, dan Telepon Seluler harus dikurangi"
"Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi minta para orang tua untuk mengurangi kebiasaan anak menonton televisi, mengakses internet dan menggunakan telepon seluler." (Saturday, February 21, 2009)
Kami di E-Pendidikan.Com terus ditanya "Apakah ada informasi baru di bidang teknologi & pendidikan?"
Sebenarnya ada. Teknologi sekarang membuat beberapa ancaman baru terhadap "anak-anak bangsa yang cerdas".
• Banyak sekali siswa-siswi sudah biasa membuang terlalu banyak waktu main games, misalnya Play Station dan Games Online. Waktu ini sebaiknya digunakan untuk menambah kemampuan mengulang pelajaran dari sekolah. Sebagai siswa-siswi atau orang tua yang bertanggungjawab kita perlu sangat membatasi atau memonitor waktu anak-anak kita main games atau akses Internet.
Ingat bahwa main games hanya dapat menyiapkan anak-anak kita untuk jurusan pengangguran!
• Terlalu banyak siswa-siswi juga sudah mulai menghabiskan banyak waktu di Internet di situs-situs hiburan (atau cari jodoh) seperti Facebook, Yahoo Messenger dan Friendster di mana mereka hanya menghabiskan waktu, yang sangat tidak produktif, dan perlu dibatasi. Kalau kita rajin keliling warnet setelah jam sekolah kita dapat melihat bahwa kebanyakan siswa-siswi sedang sibuk dengan chatting dan e-mail (pergaulan).
Ini juga baik untuk mereka yang hanya berharap ikut pengangguran!
• Lebih dari 90% bahan dan informasi yang bermutu, yang dapat meluaskan dan membuka pikiran dan kreativitas anak kita di Internet dalam bahasa Inggris (the international language). Internet sebagai sumber informasi saja sangat terbatas untuk anak-anak kita karena bahan dan informasi bermutu dalam bahasa Indonesia adalah sangat sedikit. Sebetulnya ada banyak isu yang jauh lebih penting. Misalnya!
• Lebih baik mereka menggunakan waktunya untuk belajar bahasa Inggris supaya mereka dapat berpartisipasi di dunia global, kan? Maupun membuka pintu kerja di seluruh dunia.
Informasi dan bahan pembelajaran yang paling tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi mereka akan menerima di sekolah oleh guru. Kadang-kadang gurunya akan menambah kegiatan seperti penelitian di mana siswa-siswi diberi tugas mencari informasi dari Internet. Ini kegiatan yang baik dan adalah fokus. Kegiatan begini sebaiknya dilaksanakan di luar jam sekolah supaya tidak makan waktu di sekolah yang masih sangat kurang.
Do we need education technology to achieve quality teaching/learning?
Teknologi pendidikan yang sampai sekarang ini masih sangat dapat membantu guru dan siswa-siswi di lapangan adalah apa?
• Biasanya teknologi yang paling efektif adalah yang paling sederhana, yang mengajak siswa-siswi aktif dalam proses pembelajaran.
• Semua siswa-siswi perlu belajar keterampilan komputer dan TIK karena keterampilan komputer dan TIK sering sekali adalah kebutuhan utama di lapangan kerja. Tetapi teknologi cangih sebagai media untuk menyampaikan pendidikan kita tidak perlu!
"I can answer "No" without any hesitation to your basic question 'do we need education technology to achieve quality teaching/learning?'" (Totok Amin Soefijanto)
Mr. Totok Amin Soefijanto is Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta.
He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University. Apakah benar teknologi adalah solusi untuk pendidikan yang bermutu di Indonesia?
Sebentar lagi anak-anak kita akan menghadapi Ujian Negara (UN). Yang paling penting sekarang adalah pembelajaran dari sekolah mereka. Mohon jangan sampai main game komputer, chatting, Friendster, Facebook, dll dapatmemakan waktu mereka sampai anak-anak kita dirugikan oleh teknologi!
Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.
Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (dan di seluruh dunia).
Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).

Kami sangat mendukung perkembangan teknologi di bidang pendidikan, tetapi kami wajib untuk menjaga supaya teknologi dan aplikasinya adalah sesuai dengan kebutuhan.
Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah.

Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?
Kita perlu manajemen di sekolah yang baik supaya kita dapat menggunakan teknologi sebaik mungkin, misalnya laptop di sekolah.
Teknologi dapat digunakan, tetapi hanya akan betul bermanfaat setelah hal-hal (misalnya manajemen) sudah diatasi.
Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum.
Padahal ada isu-isu yang penting dan perlu dihadapi duluan misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno" yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.
Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain.
Kita Sangat Perlu Penelitian
Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya ini sebagai salah satu sebabnya hasil dari

Ujian Nasional (UN) kelihatannya menjadi lebih buruk? Kita perlu tahu!


Teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau teknologi berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya.
Kelihatannya teknologi seperti laptop murah belum dapat diimpor sesuai dengan harga yang disebutkan, misalnya:
$150 Linux Mini-PC dari Cina
Perusahaan Cina menawarkan komputer mini yang murah dan Berbasis-Linux sebagai cara untuk menutupi "digital divide" (jarak antara yang dapat akses teknologi dan yang belum). YellowSheepRiver membuat $150 "Municator" yang kelihatannya sudah siap dan dapat dipesan sekarang dengan "leadtime" 3 bulan, dan kelihatannya akan sampai di pasar sebelum MIT $100 komputer "One Laptop Per Child" (OLPC)". Info lebih lengkap.


E-Pendidikan Mendukung Program "One Laptop Per Child"

"Laptop ini dirancang untuk dipakai di negara berkembang (dengan harga $100 sekarang masih $188) . Bulan Januari, Michalis Bletsas, pejabat tinggi proyek ini mengatakan kepada BBC bahwa OLPC berharap menjual laptop ini untuk umum tahun depan. Pemerintah dapat membeli laptop berwarna hijau dan putih ini sampai 250.000 buah.
Satu Anak Satu Laptop : "To provide children around the world with new opportunities to explore, experiment and express themselves." Informasi lanjut.
Jadi tujuan kami di Pendidikan Network adalah mencari laptop dan teknologi lain dengan harga semurah mungkin untuk bidang pendidikan.

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM memang adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan.
Bagaimana kita (masyarakat dan industri) dapat bekerjasama untuk meningkatkan fasilitas teknologi untuk anak-anak sekolah? Bagaimana mencapaikan "Satu Anak Satu Laptop?"
Ayo Pak MenDikNas, Mari kita berjuang bersama untuk meningkatkan semua aspek pendidikan supaya menjaminkan pendidikan yang bermutu untuk semua...
Anggaran Pendidikan 20% - Bersih Tanpa Korupsi dan MarkUp ... Mohon perhatian isu-isu di lapangan!
"Bambang Sudibyo menambahkan, adanya fasilitas ICT akan mampu memperbaiki akses pendidikan yang bermutu, yang selama ini sulit diakses oleh mereka yang bermukim di kawasan terpencil." (ANTARA News).
Maaf Pak, maksudnya "akses pendidikan yang bermutu" yang mana, di mana? Mohon memberi tahu Pak!
Kami sedang mencari sumber-sumber bahan pelajaran dan bahan pengajaran di Internet untuk anak-anak dan guru. Mohon mengirim link-link ke DataBase Kami di bagian "Situs Bahan Pelajaran" atau "Situs Bahan Pengajaran".
Salam Pendidikan!

D. Ontologi Teknologi Pendidikan
• Apa Ontologi Teknologi Pendidikan?
Satu pretanyaan kritis yang muncul ketika mengajar tentang landasan teknologi pendidikan adalah, “Kenapa disiplin ilmu teknologi pendidikan ada? atau dengan kata lain, “Apa (ontologi) yang melandasi adanya disiplin ilmu teknologi pendidikan?”.
Berikut saya kutipkan landasan ontologi teknologi pendidikan berdasarkan tulisan salah satu Bapak Teknologi Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Yusufhadi Miarso. Untuk mempermudah Anda memahami setiap landasan ontologi tersebut, saya coba tambahkan contoh real sebagai ilustrasi.
Landasan #1: Adanya sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
Apa misalnya? Data statistik pendidikan menunjukkan bahwa angka melanjutkan sekolah dari SD/MI ke SMP/MTs tahun 2002 adalah 51,2%. Artinya terdapat 48,8% siswa SD/MI tidak dapat melanjutkan ke tingkat SMP/MTs. Upaya apa yang harus dilakukan untuk memberi kesempatan belajar kepada hampir 58,8% siswa yang tidak bisa melnjutkan ke SMP/MTs. Disinilah peran penting adanya teknologi pendidikan yang diperlukan untuk menemukan atau mencarikan solusinya dengan berbagai pendekatan yang sistemis dan sistematik tentunya. Contoh lain? Di sekolah misalnya. Dari 40 siswa dengan hanya satu orang guru, hanya beberapa orang saja yang mendapatkan kesempatan belajar dengan baik. Bagaimana meningkatkan keterlibatan belajar semua siswa secara efektif, efisien dan menarik di kelas? Disinilah perlunya teknologi pendidikan. Contoh lain? Data statistik menunjukkan bahwa angka buta huruf di Indonesia mencapai 3,9 juta jiwa tahun 2005. Bagaimana mereduksi angka buta huruf? Lagi-lagi peran teknologi pendidikan dipentingkan disini. Apa lagi? Bagaimana meningkatkan kualifikasi 2,2 juta guru di Indonesia melalui cara tertentu tanpa guru tersebut harus meninggalkan kelas? Bagaimana meningkatkan kinerja karyawan perusahaan, tanpa harus melalui pendekatan pelatihan konvensional? de el el. Semua itu membutuhkan peran penting teknologi pendidikan.
Landasan #2: Adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tapi belum dimanfaatkann untuk keperluan belajar.
Artinya, banyak sumber baik orang, pesan, alat, teknik, maupun lingkungan yang sebenarnya dapat dimanfaatkan atau dioptimalkan secara tepat dan relevan tapi belum atau bahkan tidak sepenuhnya seperti itu. Misal, teknologi ifnormasi dan komunikasi seperti radio, televisi, internet dan lain-lain memiliki potensi yang luar biasa untuk dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan proses pembelajaran. Parahnya, dalam konteks pendidikan saat ini, masih banyak sekolah, katakanlah yang bersifat teacher-centered, dimana guru adalah satu-satunya sumber belajar. Disinilah letak peran penting atau perlu adanya disiplin ilmu teknologi pendidikan yang berperan dalam mengidentifikasi, merancang, mengembangkan, memanfaatkan dan mengevaluasi sumber-sumber yang relevan dan tepat untuk kondisi pembelajaran tertentu. Beberapa contoh penerapannya adalah pemanfaatan televisi untuk membangun watak anak-anak Indonesia sebagai pengganti sinetron yang “MENYESATKAN” atau pemanfaatan radio untuk meningkatkan pemahaman bercocok tanam yang baik di pedesaan. de el el.
Landasan #3: Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi.
Artinya, pemanfaatan berbagai sumber seperti dicontohkan di atas memerlukan suatu pendekatan yang terencana, sistematis dan sistemik. Oleh karenanya, harus dipelajari atau dikuasai “elmunya” kata orang Banten. Teknologi pendidikan, memperdalam hal ini dan mengembangkan berbagai bentuk penerapannya. Oleh karena itu, pendekatan isomorfis, yaitu menggabungkan hal-hal yang sesuai dari berbagai kajian bidang kedalam bentuk suatu kebulatan tersendiri untuk memecahkan masalah belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber tersebut.
Landasan #4: Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebu secara efektif efisien, dan selaras.
Nah, disinilah perlunya dicetak tenag-tenaga yang memiliki keahlian dalam bidang desain, pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan, dan evaluasi baik proses maupun sumber belajar yang tepat dan relevan untuk kondisi kebutuhan pembelajaran tertentu. Dan ingat kawan, upaya pemecahan masalah belajar tidak hanya terjadi dalam dunia persekolahan saja, tapi terjadi dalam konteks masyarakat, organisasi dan industri kerja (maksud saya perusahaan), de el el.
Terima kasih. Mudah-mudahan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas, khususnya untuk TPers (ade-adeku mahasiswa TP).
Wassalam,

E. Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran
MODUL DIKLAT SERTIFIKASI
PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN

1. PENGANTAR
Dalam system pendidikan modern, fungsi guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan tampaknya perlu dibantu dengan media pendidikan, agar proses belajar mengajar pada khususnya dan proses pendidikan pada umumnya dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Hal itu disebabkan antara lain, materi pendidikan yang akan disampaikan semakin beragam dan luas mengingat perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat. Dewasa ini guru bukanlah satu satu-satunya sumber belajar dan penyampai pesan-pesan pendidikan sebagaimana pernah terjadi sebelum tahun lima puluhan. Mulai tahun itu teori komunikasi social mulai masuk ke dalam pendidikan, terutama alat Bantu pandang dengar atau audio visual aid dan telah mulai digunakan dalam penyampaian pesan-pesan pendidikan. Media pendidikan ini tidak saja sebagai alat Bantu pendidikan, juga berfungsi sebagai penyalur pesan-pesan pendidikan.

2. TUJUAN
Peserta dapat menentukan langkah-langkah untuk memilih media pendidikan agama Islam yang tepat guna. Dapat menyebutkan kriteria yang tepat untuk memilih media pendidikan agama Islam yang digunakan. Dapat mempergunakan media pendidikan agama Islam yang sesuai dengan pokok bahasan yang disampaikan.

3. PENGELOMPOKAN
Peserta dikelompokkan sesuai dengan identifikasi masalah yang telah ditemukan dan tiap kelompok beranggota antara 4-5 peserta.

4. MATERI, METODE & WAKTU
a. MATERI
Sehubungan dengan telah meluasnya pemakaian media pendidikan ini dalam proses belajar mengajar bidang studi pendidikan agama Islam, maka di bawah secara berturut-turut disampaikan dua sub pokok bahasan, yaitu:
2) Makna dan Fungsi media pendidikan bagi guru agama Islam,
3) Pemanfaatan dan keterbatasan media pembelajaran.
b. METODE
Brainstorming, analisis konstektual, diskusi dan praktek.
c. WAKTU
2 JPL teori (90 menit)
4 JPL praktek (180 menit)

5. HANDOUT
a. BAHAN DAN ALAT
Untuk tercipatnya proses pendidikan dan pelatihan yang memungkinkan tersalurkannya pengalaman peserta, maka dibutuhkan alat bantu/media pendidikan antara lain:
1) Alat tulis (block note)
2) Papan tulis / kertas plano, spidol, lakban (hindari warna merah, kuning atau hijau)
3) Laptop
4) LCD
5) CD-CD model media pembelajaran
Alat bantu lain yang penting adalah media simlasi sederhana dan mudah didapat, mudah diciptakan sendiri, dan cocok dengan materi yang akan disajikan. Alat bantu ini bissa berupa kliping koran, film, gambar-gambar, kertas warna-warni dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.

6. LANGKAH KEGIATAN
a. Fasilitator membuka sesi dengan mengajak peserta mengucapkan basmalah secara bersama-sama. Sampaikan pertanyaan ringan, “Apakah sudah siap bertempur lagi?”, atau pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jelaskan topic bahasan sesi ini, perlunya pembahasan dan target yang ingin dicapai. Jelaskan secara ringkas garis besar pembahasannya (15 menit).
b. Ajaklah peserta melakukan eksplorasi pandangan mereka tentang media pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya, manfaatnya dan pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajaran (30 menit).
c. Mintalah masing-masing peserta untuk menyampaikan satu isu kekinian yang relevan dengan pemanfaatan media pembelajaran pendidikan agama Islam. Fasilitator melakukan list semua masukan yang mungkin dengan bahasa yang berbeda. Setelah semua peserta menyampaikan pendapatnya, tanyakan ke peserta apakah ada yang bisa dikelompokkan dalam wilayah isu yang sama? Lakukan pengelompokan jika itu mungkin dilakukan. Jika dianggap terlalu banyak, bisa ditawarkan kembali ke peserta, apakah harus semua didikskusikan atau bisa dipilih beberapa isu yang paling menonjol. Bagilah peserta sesuai dengan sebanyak usulan yang ada. Berilah point-point yang akan didiskusikan, misalnya latar belakang perlunya media dalam pembelajaran, macam-macam media dengan kelebihan dan kekurangannya, kendala-kendala dalam menggunakan media pembelajaran, bagaimana kondisi madrasah dan guru-guru agama dalam pemakaian media, bagaimana media dapat membuat belajar efektif dan efisien, dan sebagainya (45 menit)
d. Mintalah masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Untuk menjaga kebosanan, presentasi dilakukan dengan model panel dan sekaligus mempraktekkan cara pemanfaatan media pembalajaran dengan topik tertentu yang dipilih oleh masing-masing kelopok (90 menit).
e. Jika ada narasumber diposisikan sebagai pembahas dalam penel ini. Dengan demikian pembahasan menjadi lebih hidup dan terhindar dari regulasi murid-guru, yang mungkin saja menjadi tidak produktif (45 menit).
f. Tanyakan kepada peserta, apakah sudah ada pemahaman tentang pentingnya pemanfaatan media pembelajaran dengan pendekatan konektual teaching-learning. Tidak harus ada sepakat, tetapi setidaknya sudah terjadi refleksi dan pemahaman yang mendalam dari proses ini. Ajaklah peserta peserta bertepuk tangan atas keberhasilan diskusi yang cemerlang dan tutup dengan bersama-sama membaca alhamdulillah.

7. LEMBAR KERJA
Lembar kerja 1
a. Lakukan Brainstorming tentang media pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya, manfaatnya dan pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajaran
b. Masing-masing peserta menyampaikan satu isu kekinian yang relevan dengan pemanfaatan media pembelajaran pendidikan agama Islam
Lembar kerja 2
Diskusikan pada masing-masing kelompok dan tulis hasilnya pada plif chart:
a. Latar belakang perlunya media dalam pembelajaran,
b. Macam-macam media dengan kelebihan dan kekurangannya,
c. Kendala-kendala dalam menggunakan media pembelajaran,
d. Kondisi madrasah dan guru-guru agama dalam pemakaian media,
e. Bagaimana media dapat membuat belajar efektif dan efisien, dan sebagainya.
Lembar kerja 3
Secara berkelompok peserta membuat skenario pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dengan mengambil Kompetensi Dasar sesuai dengan kelas kelompok masing-masing
Kegiatan Pembelajaran
a. Pengorganisasian
b. Siswa
c. Waktu
d. Pendahuluan
e. Inti
f. Penutup

8. BAHAN BACAAN UNTUK TOOLKITS PESERTA
MAKNA DAN FUNGSI MEDIA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Media pendidikan merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan murid menerima dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang professional dan mampu menyelaraskan antara media pendidikan dan metode pendidikan.
Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan serta perubahan sikap masyarakat membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Hal ini mendorong setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan lembaganya lebih maju dengan memanfaatkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai media pembelajaran.
Dari pemikiran di atas sudah jelas media pendidikan itu berkaitan dengan kemajuan suatu pendidikan yang meliputi sebagai berikut :
a. Arti, fungsi dan nilai media pendidikan.
b. Tujuan pendidikan.
c. Psikologi belajar.
d. Bentuk media pendidikan.
Pembahasan ini akan dimulai dari pengertian media pendidikan sebagai alat komunikasi.
Alat komunikasi selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan majunya ilmu pengetahuan. Kaitannya dengan media pendidikan mempunyai fungsi yang besar di berbagai kehidupan, baik di kehidupan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan seni kebudayaan.
Dalam kehidupan pendidikan media komunikasi memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan maupun peningkatan mutu di suatu lembaga pendidikan. Dengan memakai media tersebut anak didik akan mudah mencerna dan memahami suatu pelajaran. Dengan demikian melalui pendekatan ilmiah sistematis, dan rasional tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Untuk mencapai pendidikan tersebut guru memberikan peran yang penting untuk menghantarkan keberhasilan anak didik, oleh karenanya dibutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan murid, untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan guru yang profesional yang mampu menyeimbangkan antara media pembelajaran dan metode pengajaran sehingga informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa dengan baik.
Jadi tugas media bukan sebagai sekedar mengkomunikasikan hubungan antara pengajar dan murid namun lebih dari itu media merupakan bagian integral yang saling berkaitan antara komponen satu dengan komponen yang lain yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.
1. Arti dan Fungsi Media Pendidikan
Secara harfiah media diartikan “perantara” atau “pengantar”. AECT (Association for Educational Communication and Technology) mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi.
2. Robert Hanick dan kawan-kawan (1986) mendefinisikan media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dalam sudut yang sama Kemp dan Dayton mengemukakan peran media dalam proses komunikasi sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sender) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).
Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan, media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah.
Mengenai fungsi media itu sendiri pada mulanya kita hanya mengenal media sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalaman visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang komplek dan abstrak menjadi lebih sederhana, kongkret, mudah dipahami. Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pembelajaran berfungsi sebagai berikut :
a. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.
b. Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).
c. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).
d. Semua indera murid dapat diaktifkan.
e. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
f. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.
Dengan konsepsi semakin mantap fungsi media dalam kegiatan mengajar tidak lagi peraga dari guru melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Hal demikian pusat guru berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belajar mengajar.
Sebagai seorang pendidik fungsi dan kemampuan media sangat penting artinya. Media merupakan integral dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan pengembanan, maupun pemanfaatan. Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya diharapkan mempertinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa.
Pertama, berkenaan dengan manfaat media pembelajaran, sebagai berikut :
a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motifasi belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.
c. Metode pengajaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.
d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan dan mendemonstrasikan.
Kedua, penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf pikir siswa. Berfikir siswa dimulai dari yang kongkret menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang komplek. Dalam hubungan ini penggunaan media pembelajaran berkaitan erat dengan tahapan-tahapan berfikir mereka sehingga tepat penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi mereka sehingga hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan.
Menurut “Ensiclopedi of Educational Reseach”, nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut :
a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.
d. Memberikan pengalaman yang nyata.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan bahasa.
g. Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.
h. Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.
i. Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.
j. Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.
Pendidikan ditujukan untuk menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam lingkungan sekolah akan dibimbing dan diarahkan oleh guru dan siswa berperan aktif.
Filsafat pendidikan memberikan kontribusi yang besar mengenai tujuan pendidikan, karena di dalam filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita yang mengatur tingkah laku atau perbuatan seseorang atau masyarakat. Dalam Undang-Undang Sistem Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, disebutkan, bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Berdasarkan pada uraian di atas maka tujuan pendidikan adalah:
a. Memperbaiki mental, moral, budi pekerti memperkuat keyakinan agama.
b. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.
c. Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.
d. Membangun warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab
Sebagai seorang pendidik, perumusan tujuan pembelajaran merupakan suatu hal yang pokok sebelum melakukan kegiatan pengajaran. Untuk meneruskan tujuan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Berorientasi pada kepentingan siswa, dengan bertitik tolak pada perubahan tingkah laku.
b. Dinyatakan pada kata kerja yang operasional artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.
Pada umumnya belajar dapat kita lihat dari jenis pandangan, yakni tradisional dan pandangan modern. Pertama, pandangan tradisional, belajar adalah usaha memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” memegang peranan yang penting dalam hidup manusia, pengetahuan adalah kekuasaan siapa saja yang memiliki banyak pengetahuan maka ia akan mendapat kekuasaan. Kedua, pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku perekat interaksi dengan lingkungannya. Seorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku.
Jadi dengan demikian, belajar merupakan suatu keharusan untuk manusia agar memperoleh ilmu pengetahuan sebagai proses perubahan tingkah laku yakni berintelektual tinggi serta berakhlakul karimah.
Untuk mencapai suatu tujuan pelajaran para ahli psikologi pendidikan telah merumuskan beberapa teori yang digolongkan menjadi tiga bagian.
a. Teori Psikologi Daya atau formal disipline
Teori ini menekankan pada daya-daya yang dimiliki oleh anak yakni daya mengingat, daya berfikir, daya mencipta, daya perasaan, dan daya kemauan. Untuk mengembangkan daya tersebut maka perlu dilatih. Misalnya, membentuk daya mengingat, maka para siswa perlu diberi latihan fakta-fakta, untuk melatih daya berfikir para siswa diberi hitungan yang berat-berat dan lain-lain. Yang pening dari teori ini menekankan pada faktor pembentukannya bukan pada faktor materi yang digunakan.
b. Teori Psikologi Asosiasi
Teori ini dikenal dengan sebutan S-R bond teory yakni teori ini stimulus response. Setiap stimulus menimbulkan jawaban tertentu misalnya 5 x 4 = 20, 5 x 4 adalah stimulus sedangkan 20 = response. Teori ini kemudian menjadi dasar tumbuhnya teori connectionisme yang mempunyai doktrin pokok “hubungan antara stimulus dan respon”. Asosiasi dibuat antara kesan-kesan penginderaan dan dorongan-dorongan untuk berbuat. Thorndike dengan S-R bond teori itu menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut :
c. 1) Hukum latihan atau prinsip use dan disuse. Apanbila hubungan itu sering dilatih ia akan lebih kuat.
2) Hukum pengaruh, hubungan itu akan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidak senangan yang berkenaan pada penggunaannya.
3) Hukum kesediaan atau kesiapan, apabila suatu ikatan untuk berbuat, perbuatan itu memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap akan menimbulkan ketidak senangan.

Implikasi dari teori itu dalam belajar adalah :
1) Kelakuan belajar, adalah berkat pengaruh atau perbuatan yang dilakukan terhadap individu.
2) Menjelaskan kelakuan dan motivasi secara mekanis.
3) Kurang memperhatikan proses-proses mengenal dan berfikir.
4) Mengutamakan pengalaman-pengalaman masa lampau.
5) Menganggap bahwa situasi keseluruhan terdiri dari bagian-bagian.
d. Belajar menurut psikologi gestalt
Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur, unsur-unsur tersebut berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain.
Implikasi teori tersebut terhadap belajar antara lain sebagai berikut:
1) Belajar dimulai dari keseluruhan.
2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian.
3) Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan.
4) Anak belajar menggunakan pemahaman.
5) Belajar merupakan rangkaian reorganisasi pengalaman.
6) Hasil belajar meliputi semua aspek tingkah laku.
7) Anak yang belajar merupakan keseluruhan bukan belajar pada otaknya saja.
3. Bentuk Media Pendidikan
Sesuai dengan pemikiran di atas media pendidikan tidak terbatas pada alat-alat audio-visual yang dapat dilihat, didengar melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru.
Secara menyeluruh, bentuk media pendidikan terdiri dari :
a. Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis)
Misalnya buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodikal dan pamflet, dan lain-lain.
b. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ini seperti :
1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar.
2) Media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan contoh, diorama, boneka, dan lain-lain.
3) Media yang menggunakan teknik atau masinal. Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau instruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.
c. Sumber-sumber masyarakat
Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.
d. Kumpulan benda-benda
Berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.
e. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru
Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.

F. Pemanfaatan Teknologi Komunikasi dalam Pengembangan
Pendidikan
Teknologi komunikasi merupakan teknologi modern dalam bidang komunikasi dengan produk yang berupa peralatan elektronik dan bahan-bahan (sofware) yang disajikan telah mempengaruhi seluruh sektor kehidupan termasuk pendidikan dan teknologi komunikasi pendidikan itu mempunyaisuatu manfaat dalam mempengaruhi dan mengetahui hal–hal yang ada di sekitar dan diperuntukan kepada orang lain secara timbal balik, sehingga mampu untuk memecahkan suatu masalah dalam kehidupan seperti halnya di indonesia sarana yang cukup memadai dalam teknologi komunikasi adalah media radia, televisi dan lain–lain. Teknologi komunikasi dapat digunkan untuk menimbulkan kepekaan terhadap keadaan, nasip serta malapetaka yang menimpa pada suatu daerah, dengn adanya media teknologi komunikasi maka keadaan yang demikian dapat menimbulkan suatu respon dan rasa solidaritas (kesetiakawan) kepada orang lain apabila dalam pendidikan khuusnya pendidikan formal maka teknologi komunikasi seperti media komunikasi yang dijadikan pelengkap untuk menambah intlektual dan emosianal dalam pendidikan misal: OHP vidio, televisi maka selain itu haruslah ada teknologi kemunikasi yang lebih sentral atau menjadi pusat pengembangan dan pemahaman bagi anak didik yaitu seorang pendidik (guru) yang dapat memberikan suatu pesan atau amanah dalam menjadikan akan didik lebih dewasa, maka dari itu kami disini akan membahas tentang manfaat dari teknologi dalam pengembangan pendidikan.
Komunikasi berasal dari bahasa latin : Communicatee yang berarti memberitahukan, berpartisipasi atau menjadi milik bersama, misalnya komunikasi diartikan : proses menyebarkan informasi, berita, pesan, pengetahuan atau nilai-nilai dengan maksud menggunakan partisipasi agar hal-hal yang disampaikan itu menjadi milik bersama antara komunikator (orang yang menyampaikan pesan) dan kemunikasi (orang yang menerima pesan).
Komunikasi dapat diartikan menjadi empat yaitu :
1. Penerapan praktis merupakan suatu yang sudah diolah dan siap dipakai oleh para pelaksana dan penerima pendidikan tenru saja pada tingkatan dan tanggung jawab yang berbeda.
Misalnya menerapkan produk elektronika seperti komputer, radio dan lain-lain dalam belajar mengajar
2. Prinsip dan penemuan ilmu komunikasi baik pada diri manusia maupun pada mesin (peralatan) tetapi dalam pengertian “man machine system”
3. Efisien dan efektif berarti dalam aplikasi prinsip dan penemuan itu tidak semata-mata merupakan komponen tambahan melainkan yang mempunyai peranan khusus dan menentukan adanya perubahan peranan pada komponen yang lain. Misal : tidak ada sekedar membantu guru (sebagai alat bantu mengajar yang sering kali hanya dipajang didepan kelas) melainkan menunjang guru dengan pedoman dan syarat penggunaan tertentu
4. Proses pendidikan, bukan hanya yang berlangsung didalam kelas atau didalam sekolah saja melainkan yang berlangsung pada semua tingaktan (level) yaitu mulai dari proses kurikulum, perencanaan pengajaran sampai pelaksanaan interaksi dalam belajar.
Komunikasi memegang peranan penting dalam pendidikan agar komunikasi antara guru dan siswa berlangsung baik dan informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa, guru perlu menggunakan media pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar melalui media terjadi bila ada komunikasi antara guru (sumber) dan murid (penerima).
Selender (s)/sumber yaitu orang yang melakukan komunikasi atau memberi pesan. Message (m) yaitu isi pesan yang diberikan oleh sumber kepada penerima pesan. Sedangkan penerima pesan disebut reciver dan dilambangkan dengan R. Dalam proses itu sendiri baru terjadi setelah ada reaksi umpan balik (feed back) dalam hal ini penerima pesan (R) berubah fungsi sebagai selender sedangkan sumber menjadi receiver atau penerima pesan.
Dalam proses / konsep teknologi pendidikan, tugas media bukan hanya sekedar mengkomunikasikan hubungan antara sumber (pengajar) dan sipenerima (si anak didik), namun lebih dari itu merupakan bagian yang integral dan saling mempunyai keterkaitan antara komponen yang satu dengan yang lainnya, saling berinteraksi dan saling mempengaruhi.
Pola-pola komunikasi dalam interaksi belajar mengajar (pendidikan)
Pola komunikasi dalam interaksi pendidikan dibagi menjadi 2 bagian:
1) Pola komunikasi satu arah
Seorang guru sebagai pusat belajar mengajar (teacher centered), guru menyampaikan pelajaran dengan berceramah sianak didik mendengarkan dan mencatat (si anak didik pasif) gurulah yang merencanakan, mengendalikan dan melaksanakan segala sesuatu.
Tapi pola ini banyak kelemahan dibanding keuntungan, kelemahanya : suasana kelas kaku, guru cenderung otoriter sebab hubungan guru dengan si anak seperti majikan dengan bawahan, mengerti atau tidak mengertinya si anak didik tidak dengan cepat diktehu guru dan guru akan berbicara terus menerus.
2) Pola komunikasi dua arah
Pada pola ini sianak didik memperoleh pengetahuan didalam kelas di bawah bimbingan guru atau dengan bantuan tenaga temannya sendiri, terjadilah suatu proses saling bertukar pikiran atau saling membero informasi yang mematangkan si anak didik dalam segala perbuatan belajar.
Pola komunikasi dua arah ini terbagi menjadi 3 yaitu:
(a) Jalur dua arah guru dan anak didik Si anak punya kesempatan untuk bertanya, mengajukan hadapan, keberatan atau tidak setuju tentang apa-apa yang disampaikan kepadanya, tentang apa-apa yang terjadi dalam proses belajar mengajar.
(b) Jalur dua arah guru-anak didik dan anak berdampingan Jalur ini lebih memberi kesempatan lagi kepada anak didik tidak hanya kepada guru dia menanyakan dan mengemukakan pendapatnya, akan tetapi juga kepada teman-teman yang duduk di kiri-kanannya.
(c) Jalur dua arah guru anak didik dan antara anak didik Ini dapat menghasilkan hasil belajar yang lebih berarti lebih berdaya guna, lebih berhasil guru pada diri anak didik dan masyarakat karena memberi kesempatan lagi pada anak didik dan masyarakat karena memberikesempatan lagi pada anak didik untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya tidak hanya kepada guru akan tetapi juga dapat antar anak didik.
Dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak didik, guru/ pengajar haruslah tahu kriteria/karakteristik dari anak didiknya karena setiap individu itu mempunyai perbedaan adanya itu karena pengaruh:
1. Pembawaan yaitu kepantasan intelegensi urat saraf dan benrtuk tubuh
2. Lingkungan yaitu pengaruh dari luar yang mempengaruhi perkembangan anak. Misalnya ekonomi keluarga dan msalah keluarga.
Kita lihat dari teknologi komunikasi yang non verbal dan sepertinya bias digunakan dalam komunikasi instruksional, komunikasi instruksional emr subset dari komunikasi secara keseluruhan yang bersifat metodis-teoritis, maksudnya kajian atau garapannya berpola tertentu sehingga akhirnya bisa diterapkan untuk kepentingan dilapangan, adapun manfaat adanya komunikasi instruksional yaitu: efek perubahan tingkah laku yang terjadi, sehingga hasil tindakan komunikasi instruksional bisa dikontrol atau dikendalikan digunakan baik misal : vidio dalam pengajaran, komputer untuk mengembanagkan ilmu yang lebih maju, tapi komunikasi instruksional juga lebih ditekankan kepada pola perencanaan dan pelaksanaan secara operasional yang didukung oleh teori-teori untuk keberhasilan efek perubahan perilaku pada pihak sasaran pelaksanaan tersebut yaitu : guru, dosen, penyulung, pembimbing.
Hambatan-hambatan yang terjadi dalam pengembangan teknologi komunikasi pendidikan dipengaruhi aspek internal dan juga aspek eksternal, dan pada aspek internal yaitu ada beberapa faktor:
Hambatan pada sumber yaitu komunikator/guru
- Hambatan kejiwaan/psikologis yaitu simpati, ketidak senangan, benci
- Hambatan bahasa yaitu gangguan sematik yang berhubungan digunakan arti kata salah (bahasa/kata-kata yang belum dipahami)
- Perbedaan pengalaman yaitu gangguan pada masalah kehidupan (penyampaian dari komunikator apa yang disampaikannya tentu tidak sebaik mereka yang mempunyai keahlian yang baik (kecongkakan, kurang motivasi, kurang pergaulan)
Hambatan pada media/alat komunikasi
- Hambatan/gangguan pada saluran terjadi karena adanya ketidakberesan pada aluran komunikasi atau pada suasana sekitar berlangsungnya proses komunikasi dalam pendidikan
Misalnya gangguan suara, tidak jelas/sakah teknis, gambar tidak jelas, dan lain-lain.
- Hambatan pada komunikan terjadi pada pihak komuniktor atau pengajar dan media/saluran tetapi pihak sasaran pun bisa berpeluang untuk menghambat bahkan kemungkinan lebih besar dari yang lain (timbul kecurigaan) (menurut Cawley, 1982).

G. Manfaat Teknologi Komunikasi dalam Pendidikan
Masuknya teknologi komunikasi pendidikan dalam garis besarnya akan mempengaruhi strategi pengembangan kurikulum pola interaksi pendidikan dan lahirlah berbagai bentuk lembaga pendidikan, dalam hal ini media mempunyai peranan penting yang di laksanakan secara menyeluruh yaitu:
1. Sumber media berupa orang saja ( kebanyakan terjadi pada madrasah sekarang ini) dalam pola interaksi ini guru kelas memegang penuh kendali atas berlangsungnya pengajaran dan bahkan pendidikan.
2. Sumber berupa orang yang di bantu oleh sumber lain, maka guru masih memegang kontrol hanya saja tidak mutlak, karena dia dibantu oleh sumber lain.
3. Sumber orang bersama sumber lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab (terdapat kontrol bersama) misalnya media mengontrol penyajian informasi serta efektifitas penerimaan pesan sedang guru kelas mengontrol disiplin dan kegairahan belajar.
4. Sumber lain/ media tanpa sumber berupa orang, keadaan ini terjadi dalam suatu pembelajaran melalui media, tetapi pelu diingat bahwa media tidaklah mendidik, media dipakai oleh guru untuk mencapai pengembangan anak didik. Berbagai bentuk lembaga pendidikan dapat lahir sebagai pengaruh tekkom, kelembagaan sistem belajar jarak jauh(BJJ) misalnya : merupakan suatu bentuk kelembagaan baru dibanding dengan bentuk yang sudah kita kenal semula. Pertumbuhan ke arah bentuk baru, secara teoritis dapat menuju ke arah terciptanya suatu ”jaringan belajar” (tearning network) yang tidak lagi merupakan suatu lembaga pendidikan, melainkan suatu suasana dimana sumber belajar dalam arti luas, tersedia untuk siapa saja yang mempunyai hasrat belajar. Pemanfaatan tekkom yang tampak secara nyata yaitu media/ alat. Media ini tidak terbatas pada yang dipersiapkan oleh guru kelas sendiri, melainkan yang lebih penting dipersiapkan oleh tiem pembelajaran yang terdiri ahli-ahli dalam bidangnya masing-masing pengajar .
Di lihat dari segi penggunaan media ada tiga kecenderungan untuk penggunaan media yaitu:
a. Dipakai secara massa yang meliputi radio, televisi, teleblackboard.
b. Dipakai dalam kelakuan, baik kecil maupun besar seperti:proyektor film bingkai, overhead , kaset video, kaset suara.
c. Dipakai secara individual seperti mesin belajar misalnya komputer.
Dalam dunia pendidikan teknologi komunikasi itu sedemikian penting peranannya dalam proses pendidikan dan belajar mengajar, karena itu efektivitasnya harus menjadi perhatian serius para praktisi pendidikan terutama guru. Agar proses komunikasi lebih efktif dan dengan demikian tujuan pendidikan tercapai secara optimal. Dan alat komunikasi juga penting sebagai pelengkap untuk mencapai pengembangan intelektual dan kreativitas anak didik dan hanya media yang akan mengontrol penyajian informasi bagi anak didiknya pula dan guru juga sebagai sumber sentral agar dapat memberi suatu pengetahuannya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

A. Proses belajar pada hekekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada di kurikulum, sumber pesan bisa guru, siswa, orang lain atau penulis buku dan produser media, salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesan adalah siswa atau juga guru.
B. Dalam proses komunikasi tersebut akan terjadi apa yang disebut dengan encoding dan decoding. Encoding adalah proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi. Sedangkan decoding adalah proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut. Adakalanya proses decoding tersebut berhasil sesuai yang dihendaki oleh penyampai pesan, akan tetapi ada kalanya ridak berhasil.
C. Ada beberapa Jaktor yang menjadi penghambat atau penghalang proses komunikasi. Penghambat komunikasi tersebut biasa dikenal dengan isrilah barriers atau noises. Adapun hambatan-hambatan tersebut meliputi;
D. Hambatan psikologis. Kondisi psikologi seseorang dapat menghambat proses komunikasi, baik dari sisi keantusiasan komunikasi, rasa percaya diri dan daya tangkap. Oleh karena itu hambatan psikologis ini dapat meliputi; minat, sikap, pendapat, kepercayaan, intelegensi dan pengetahuan.
E. Hambatan fisik. Setiap orang memiliki keterbatasan fisik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Keterbatasan fisik ini juga dapat menyebabkan keterbatasan dalam berko.munikasi, seperti; kelelahan, sakit, keterbatasan daya indera dan cacat tubuh.
F. Hambatan kultural. Kultur atau budaya suatu daerah sering berbeda dengan daerah lain. Apabila dalam berkomunikasi tidak atau kurang adanya pemahaman terhadap budaya masing-masing, maka dapat menyebabkan terhambatnya proses komunikasi. Hambatan kultur itu misalnya; perbedaan adat-istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan.
G. Hambatan lingkungan. Lingkungan memiliki peran yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar. Lingkungan yang kondusif sangat dibutuhkan dalam proses komunikasi dan pembelajaran. Untuk itu, maka kondisi lingkungan belajar harus tenang, nyaman dan menyenangkan agar proses komunikasi belajar dapat berjalan dengan baik.
H. Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan dapat membantu mengatasi hal tersebut. Perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jenis geografis, jarak waktu dan sebagainya dapat dibantu diatasi dengan pemanfaatan media pendidikan.
I. Dinamika zaman selalu berimplikasi pada perkembangan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat konsumen. Teknologi yang dikembangkan oleh para teknokrat itu pun beragam, baik berupa teknologi bio, teknologi muldmedia maupun teknologi komunikasi yang ternyata memberikan kontribusi yang signifikan pada pendidikan. Oleh karena itu muatan teknologi pendidikan menjadi implikasi sekaligus konsekuensi dari mutasi teknologi itu sendiri.
J. Perkembangan teknologi yang melahirkan teknologi pendidikan merupakan "market demand" masyarakat pendidikan. Masyarakat pendidikan yang dimaksud di sini adalah masyarakat yang terlibat — baik secara langsung maupun tidak langsung—dalam proses pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai manivestasi dari cita-cita bangsa (bagi Indonesia termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat). Masyarakat atau pihak-pihak yang terlibat itulah yang sering kita sebut dengan stakeholder.




DAFTAR PUSTAKA

Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.
Chabib Thoha, dkk (ed), PBM-PAI di Sekolah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Dawit, M. Yusuf, Komunikasi pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 1990,
Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, Semarang: RoSail, 2005.
Nasution, S., Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.
Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Sudjana, Nana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.
Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.
Zahara Idris, Dasar-Dasar Pendidikan, Angkasa Raya, Padang, 1981.
http://e-pendidikan.com/comp.html - dasar
http://www.linuxdevices.com/news/NS6301677114.html
http://teknologipendidikan.com/16-3-2009/15.08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar/Remidi anda :